Tradisi Ngaben dan Siklus Kehidupan: Diskusi Reflektif Siswa SD melalui WhatsApp Classroom
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Ngaben adalah
upacara pembakaran jenazah yang merupakan bagian penting dalam tradisi Hindu
Bali. Upacara ini dimaknai sebagai penyucian roh dan kembalinya jiwa ke alam
asalnya. Ngaben dilakukan dengan penuh simbol, doa, serta keterlibatan
keluarga dan masyarakat. Tradisi ini mengajarkan tentang pemahaman siklus
kehidupan, penghormatan terhadap leluhur, dan nilai spiritualitas. Bagi siswa
SD, Ngaben dapat dikenalkan sebagai bagian dari keragaman budaya
Indonesia tanpa menyentuh aspek ritual sensitif.
Guru
dapat memulai pembelajaran dengan menampilkan dokumentasi edukatif tentang Ngaben
yang menekankan nilai budaya, bukan unsur religius. Siswa diajak berdiskusi
ringan tentang makna keluarga, kebersamaan, dan cara masyarakat merawat
tradisi. WhatsApp Classroom dapat digunakan sebagai ruang refleksi, tempat
siswa mengirimkan rekaman suara atau pesan teks mengenai hal yang mereka
pelajari. Fitur voice note sangat membantu untuk siswa yang lebih nyaman
berbicara daripada menulis. Dengan demikian, pembelajaran budaya menjadi lebih
interaktif dan dekat dengan kehidupan siswa.
Penggunaan
WhatsApp dalam pembelajaran budaya merupakan bagian dari etnopedagogi berbasis
komunikasi digital. Nilai budaya tidak hanya dipelajari di kelas, tetapi juga
diperdalam melalui refleksi personal. WhatsApp memungkinkan pembelajaran
berlangsung secara natural dan fleksibel, seakan siswa sedang bercerita di
rumah. Aktivitas ini mendukung keterampilan literasi emosional dan komunikasi
antar siswa. Budaya lokal pun menjadi sumber belajar yang hidup dalam
percakapan harian.
Pendekatan
pembelajaran kontekstual dilakukan dengan mengaitkan makna Ngaben pada
aspek kehidupan yang relevan bagi anak, seperti menghormati keluarga, memahami
siklus hidup, dan empati terhadap orang lain. Guru dapat membantu siswa
mengenali nilai universal yang ada dalam tradisi, sehingga pembelajaran tidak
terbatas pada pengetahuan budaya semata. WhatsApp memfasilitasi ruang bagi
siswa untuk berbagi pengalaman keluarga yang berkaitan dengan rasa kehilangan
atau kebersamaan. Dengan demikian, budaya menjadi jembatan untuk memahami
kehidupan nyata.
Melalui
integrasi budaya Bali, WhatsApp Classroom, etnopedagogi, dan pembelajaran
kontekstual, siswa belajar memahami keberagaman budaya Indonesia secara lebih
personal. Mereka belajar menghargai perbedaan tanpa merasa jauh dari budaya
tersebut. Aktivitas reflektif membantu siswa memperkuat karakter empati dan
penghormatan terhadap tradisi. Dengan cara ini, sekolah tidak hanya
melestarikan budaya, tetapi juga menumbuhkan kepekaan sosial dan spiritual pada
diri anak. Pembelajaran budaya pun menjadi lebih inklusif dan bermakna.
###
Penulis: Arumita Wulan Sari