Tragedi "Copy-Paste": Matinya Daya Kritis dalam Budaya Catatan Digital di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di lingkungan sekolah dasar yang telah menghapuskan penggunaan buku tulis, aktivitas yang seharusnya menjadi proses "mencatat" sering kali mengalami degradasi makna menjadi sekadar aktivitas mengambil tangkapan layar atau melakukan penyalinan teks secara instan. Praktik ini secara drastis menghilangkan proses filterisasi informasi yang sangat krusial, yang biasanya terjadi secara alami saat seorang anak mencoba merangkum penjelasan lisan dari guru ke dalam kalimat-kalimat pendek di buku tulis mereka sendiri.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa proses merangkum secara manual memaksa otak untuk bekerja ekstra guna memprioritaskan informasi mana yang paling penting, sebuah keterampilan kritis yang menjadi dasar bagi kemampuan berpikir analitis di masa dewasa. Sebaliknya, kemudahan teknologi digital membuat siswa cenderung menjadi penerima informasi yang pasif, di mana mereka hanya mengumpulkan data tanpa benar-benar mencerna atau memahami esensi dari apa yang mereka simpan di dalam perangkat tersebut.
Jika tren ini tidak segera dievaluasi dan diperbaiki, kita sangat berisiko menghasilkan lulusan sekolah dasar yang mungkin sangat mahir dalam mengoperasikan alat komunikasi canggih, namun merasa kesulitan saat diminta untuk merumuskan sebuah pemikiran orisinal. Ketidakmampuan untuk melakukan sintesis informasi secara mandiri akan menjadi hambatan besar bagi mereka saat memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi yang menuntut kemandirian intelektual dan daya kritis yang lebih tajam.
Budaya copy-paste juga berdampak pada integritas akademik sejak usia dini, di mana batas antara karya milik sendiri dan hasil salinan dari internet menjadi semakin kabur di mata siswa sekolah dasar. Tanpa buku tulis yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka dalam merangkai kata demi kata, siswa kehilangan rasa kepemilikan terhadap pengetahuan yang mereka peroleh, dan menganggap ilmu hanyalah komoditas digital yang bisa diambil dan dibuang kapan saja.
Para pendidik harus menyadari bahwa mencatat dengan tangan sebenarnya adalah bentuk pertama dari aktivitas riset, di mana siswa belajar untuk mengumpulkan, memilah, dan menyajikan data dalam format yang paling mudah mereka mengerti. Menghilangkan proses ini berarti menghilangkan tahap latihan berpikir yang paling mendasar, yang tidak mungkin bisa digantikan oleh algoritma pencarian secanggih apa pun yang tersedia di perangkat pintar mereka.
Selain itu, catatan digital yang rapi dan sempurna sering kali justru kurang efektif sebagai sarana belajar dibandingkan catatan tangan yang mungkin terlihat berantakan namun memiliki nilai memori personal bagi siswa. Setiap coretan, penekanan tinta, atau kesalahan tulis di buku fisik berfungsi sebagai penanda memori yang membantu siswa mengingat kembali momen spesifik saat informasi tersebut disampaikan oleh guru di depan kelas.
Oleh karena itu, sangat penting bagi sekolah untuk tetap mewajibkan aktivitas merangkum secara manual di buku tulis sebagai bagian integral dari setiap mata pelajaran, meskipun perangkat digital tetap digunakan sebagai sumber referensi. Keberadaan buku tulis akan menjadi benteng terakhir yang menjaga daya kritis dan kemampuan analisis siswa agar tidak lumat oleh kemudahan semu yang ditawarkan oleh budaya digital yang serba instan.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah