Transformasi Paradigma Pekerjaan Rumah Menuju Ekosistem Pembelajaran yang Humanis
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Perubahan zaman menuntut dunia pendidikan untuk melakukan transformasi besar dalam memandang fungsi dan peran pekerjaan rumah bagi siswa sekolah dasar. Isu tangisan siswa yang viral belakangan ini menunjukkan bahwa paradigma PR tradisional yang bersifat kaku dan membebani sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan anak saat ini. Pendidikan dasar membutuhkan sebuah ekosistem pembelajaran yang lebih humanis, di mana setiap tugas dirancang untuk menginspirasi, bukan untuk mendiskriminasi atau menyiksa. Transformasi ini mengharuskan guru untuk meninggalkan metode penugasan repetitif dan beralih ke aktivitas yang lebih bermakna dan kontekstual bagi kehidupan anak. Dengan menjadikan proses belajar lebih manusiawi, kita dapat mencegah timbulnya trauma akademik pada anak-anak sejak usia dini.
Paradigma pembelajaran yang humanis menempatkan siswa sebagai subjek yang memiliki perasaan, keunikan, dan kebutuhan emosional yang harus dihargai. Dalam konteks ini, pekerjaan rumah seharusnya tidak lagi dianggap sebagai beban tambahan, melainkan sebagai kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi minat mereka secara mandiri. Guru dapat memberikan pilihan tugas yang beragam sesuai dengan gaya belajar masing-masing siswa, sehingga mereka merasa memiliki kontrol atas proses belajarnya. Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan keterlibatan siswa dan mengurangi tingkat stres akademik secara signifikan dibandingkan dengan tugas tunggal yang dipaksakan. Fleksibilitas dalam pemberian tugas merupakan salah satu ciri utama dari sekolah yang telah menerapkan prinsip ramah anak secara nyata.
Penciptaan ekosistem yang humanis juga memerlukan redefinisi hubungan antara guru, siswa, dan orang tua dalam menyelesaikan tugas sekolah. Guru tidak boleh hanya berperan sebagai pemberi instruksi dan penilai, tetapi juga sebagai fasilitator yang memastikan siswa memiliki sumber daya cukup untuk belajar. Komunikasi yang terbuka mengenai beban tugas harus dijalin dengan orang tua agar tidak terjadi penumpukan beban yang membuat anak merasa terhimpit. Jika seorang anak merasa kesulitan, tugas tersebut seharusnya menjadi bahan diskusi untuk perbaikan proses mengajar di kelas, bukan menjadi alasan untuk menghukum. Budaya saling mendukung ini akan menciptakan rasa aman bagi siswa sehingga mereka tidak lagi takut melakukan kesalahan dalam proses belajar.
Implementasi pembelajaran humanis melalui transformasi PR dapat dilakukan dengan mengintegrasikan tugas-tugas yang melibatkan aktivitas fisik, seni, dan keterlibatan sosial. Alih-alih memberikan puluhan soal matematika, siswa bisa diminta untuk membantu orang tua berbelanja dan menghitung kembalian sebagai praktik literasi numerasi yang menyenangkan. Tugas semacam ini jauh lebih membekas dalam ingatan dan memberikan manfaat praktis bagi kehidupan sehari-hari anak tanpa memicu rasa bosan. Selain itu, pemberian umpan balik yang konstruktif dan suportif dari guru jauh lebih berharga daripada sekadar memberikan nilai angka atau tanda merah pada lembar jawaban. Apresiasi terhadap usaha yang dilakukan anak akan membangun konsep diri yang positif dan memotivasi mereka untuk terus belajar.
Kesimpulan dari transformasi ini adalah kembalinya pendidikan pada khitahnya sebagai proses pendewasaan yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan. Kejadian viral yang menyedihkan tentang tangisan anak sekolah dasar harus dijadikan titik balik untuk meruntuhkan tembok kaku birokrasi akademik yang tidak berperasaan. Sekolah Ramah Anak bukan hanya tentang fasilitas yang megah, melainkan tentang ruh pendidikan yang menghargai setiap tetes keringat dan air mata siswa. Mari kita bangun masa depan pendidikan Indonesia yang lebih ramah, di mana setiap anak berangkat dan pulang sekolah dengan senyuman yang tulus. Melalui paradigma baru yang humanis, kita yakin bahwa anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga penuh empati dan kebahagiaan.
###
Penulis : Indriani Dwi Febrianti