Translate dalam Konteks Kurikulum Merdeka: Mendorong Pembelajaran Kontekstual
Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran yang relevan dan bermakna bagi siswa. Dalam konteks ini, kemampuan translate menjadi inti dari proses belajar. Siswa didorong untuk translate fenomena kehidupan sehari-hari menjadi masalah matematika yang dapat diselesaikan dengan berpikir logis. Misalnya, menghitung luas halaman rumah atau memperkirakan jumlah bahan makanan untuk kegiatan kelompok.
Melalui proses translate, matematika menjadi lebih dekat dengan realitas siswa. Mereka belajar bahwa angka dan rumus bukan sekadar abstraksi, tetapi alat untuk memahami dunia. Guru dapat mengarahkan siswa untuk translate kegiatan rutin mereka, seperti berbelanja atau memasak, ke dalam bentuk perhitungan matematis.
Pendekatan ini juga mendukung pembelajaran berbasis proyek, di mana siswa perlu translate data dan informasi untuk menghasilkan solusi nyata. Misalnya, dalam proyek menghitung kebutuhan air bersih di sekolah, siswa melakukan pengukuran, mencatat hasil, dan translate data tersebut menjadi perhitungan yang bermakna.
Selain meningkatkan pemahaman konseptual, kegiatan translate juga menumbuhkan kreativitas dan kemandirian. Siswa merasa terlibat karena mereka melihat keterkaitan antara matematika dan kehidupan. Dengan demikian, translate bukan hanya teknik pedagogis, tetapi juga bagian dari filosofi Kurikulum Merdeka.
Guru yang mampu memfasilitasi proses translate akan menciptakan pengalaman belajar yang humanis, fleksibel, dan sesuai dengan kebutuhan individual siswa.