Translate in Action: Transformasi Pembelajaran Bahasa di Sekolah Dasar untuk Mendukung SDGs
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pendidikan, penggunaan fitur digital translate di sekolah dasar kini menjadi salah satu langkah strategis dalam menjawab kebutuhan pembelajaran abad ke-21. Guru tidak lagi hanya mengajar dengan metode tradisional, tetapi memadukan teknologi untuk memperkaya proses belajar. Kehadiran aplikasi terjemahan membuat siswa lebih mudah memahami teks berbahasa Inggris tanpa rasa takut. Dengan bantuan translate, pembelajaran yang biasanya membuat siswa bingung berubah menjadi pengalaman menyenangkan yang mendorong rasa ingin tahu. Inovasi ini juga selaras dengan SDGs, terutama poin Quality Education yang menekankan pendidikan inklusif dan modern.
Dalam praktik di kelas, translate dimanfaatkan sebagai alat eksplorasi bahasa yang membuat siswa aktif terlibat. Ketika menemukan kata baru, mereka langsung mencoba menerjemahkannya sambil berdiskusi dengan teman sebangku. Guru pun menciptakan kegiatan seperti “Translate Challenge” di mana siswa berlomba menerjemahkan kalimat sederhana lalu membacanya bersama-sama. Suasana kelas menjadi hidup siswa tertawa, mencoba mengoreksi, dan belajar dari satu sama lain. Aktivitas ini bukan hanya memperlancar kemampuan berbahasa, tetapi juga membangun keterampilan kolaborasi yang merupakan bagian penting dari kompetensi global.
Yang menarik, guru juga mengaitkan translate dengan pembelajaran budaya. Banyak cerita rakyat Indonesia diterjemahkan ke bahasa Inggris untuk mengenalkan kekayaan budaya kepada siswa sekaligus memperluas wawasan mereka. Sebaliknya, cerita luar negeri diterjemahkan ke bahasa Indonesia untuk membantu mereka memahami nilai dan pesan moral dari berbagai negara. Guru menekankan bahwa menerjemahkan bukan sekadar memindahkan kata, tetapi memahami maksud, konteks, dan nuansa. Dari proses ini, siswa belajar bahwa setiap bahasa memiliki keunikan tersendiri dan membutuhkan ketelitian untuk dapat dipahami dengan benar. Hal ini melatih kemampuan berpikir kritis dan keterampilan literasi yang lebih dalam.
Dari sudut pandang SDGs, penggunaan translate membantu memperkecil kesenjangan pembelajaran di kelas. Siswa yang tadinya kesulitan bahasa Inggris kini dapat belajar dengan lebih mudah dan mandiri. Guru menyampaikan bahwa alat digital ini membuat proses pembelajaran lebih inklusif karena setiap siswa bisa belajar sesuai tempo masing-masing. Translate juga membantu menumbuhkan sikap saling menghargai antar siswa, karena mereka sering saling membantu ketika salah satu teman kesulitan memahami makna tertentu. Pendekatan ini mendukung indikator Reduced Inequalities dan Global Partnership, karena teknologi menjadi sarana membangun kesempatan belajar yang setara.
Pada akhirnya, penerapan fitur translate tidak hanya membantu siswa memahami bahasa Inggris, tetapi juga menciptakan suasana kelas yang kreatif, berani mencoba, dan penuh antusiasme. Banyak siswa yang mulai berani membuat kalimat sederhana dalam bahasa Inggris dengan bantuan aplikasi, bahkan meminta guru memberikan tugas tambahan karena mereka merasa belajar bahasa menjadi lebih mudah. “Technology makes learning fun,” ujar salah satu siswa dengan mata yang berbinar. Dengan kombinasi teknologi, kreativitas guru, dan semangat belajar siswa, sekolah dasar kini semakin siap melahirkan generasi muda yang mampu berkomunikasi secara global dan berperan aktif dalam masa depan yang semakin terhubung.
###
Penulis: Nindiana Eva Rosa Amalia
Dokumentasi: Canva