Trauma Anak Pasca-Bencana: Tantangan Baru bagi Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Bencana yang terjadi di Aceh dan Sumut bukan hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga trauma psikologis yang mendalam pada anak-anak. Sekolah dasar menjadi ruang pemulihan penting karena anak menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan pendidikan. Dalam konteks ini, pendidik tidak lagi hanya berperan sebagai fasilitator pengetahuan, tetapi juga penjaga kesejahteraan emosional. Guru perlu memiliki literasi dasar mengenai trauma anak agar bisa mendampingi siswa dengan pendekatan sensitif. Pendidikan pun perlu memperhitungkan kondisi mental sebagai prasyarat pembelajaran efektif.
Sayangnya, kurikulum pendidikan dasar di Indonesia belum sepenuhnya memasukkan kompetensi pengelolaan trauma sebagai domain pedagogis. Guru sering merasa gagap menghadapi siswa yang menunjukkan kecemasan, sensitivitas ekstrem, atau perilaku withdrawn setelah bencana. Ketidaksiapan ini membuat proses pemulihan berlangsung lebih lama dan tidak merata. Padahal intervensi psikologis sederhana seperti ruang aman, permainan kooperatif, dan aktivitas refleksi dapat membantu stabilisasi emosi. Ketiadaan pedoman yang jelas memperlambat proses ini secara signifikan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengalami trauma belajar dengan lebih lambat dan sulit mempertahankan perhatian. Hal ini berdampak pada capaian akademik, interaksi sosial, dan kepercayaan diri siswa. Karena itu, model pembelajaran pascabencana harus fleksibel, humanis, dan menghindari tekanan akademik yang berlebihan. Guru dapat menerapkan pendekatan responsif yang mengutamakan kebutuhan emosional anak sebelum masuk ke materi pelajaran. Pemulihan diri menjadi fondasi untuk pemulihan pembelajaran.
Sekolah juga dapat bekerja sama dengan psikolog anak dan lembaga kemanusiaan yang berpengalaman dalam manajemen trauma. Melalui kolaborasi ini, guru bisa memperoleh pelatihan dasar mengenai identifikasi gejala trauma dan cara penanganannya. Sementara siswa dapat mengikuti kegiatan kelompok untuk membangun kembali rasa aman dan kebersamaan. Semua intervensi tersebut menempatkan sekolah sebagai pusat healing yang terstruktur dan berkelanjutan. Dengan demikian, pendidikan dasar berperan penting dalam memutus rantai dampak psikologis jangka panjang.
Membangun ketahanan psikologis siswa harus menjadi prioritas pendidikan nasional, terutama di daerah rawan bencana. Kebijakan perlu memberi ruang lebih besar bagi program pemulihan emosi dalam kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler. Guru sebagai ujung tombak harus didukung dengan pelatihan dan fasilitas yang memadai. Anak-anak yang pulih secara emosional akan lebih siap kembali belajar, berinteraksi, dan tumbuh menjadi pribadi resilien. Pada akhirnya, pendidikan pascabencana adalah investasi jangka panjang untuk masa depan generasi muda.
####
Penulis: Aida Meilina