Tutorial Pilah Sampah: Canva dan ChatGPT Bantu Siswa SD Buat Panduan Daur Ulang Mandiri
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Meningkatkan partisipasi siswa dalam pengelolaan sampah merupakan langkah krusial menuju SDG 12. Di sebuah sekolah dasar, guru menggabungkan kecerdasan buatan ChatGPT dan alat desain Canva untuk membantu siswa membuat brosur panduan "Pilah Sampah dari Rumah". Siswa pertama-tama berkonsultasi dengan ChatGPT untuk mendapatkan fakta-fakta akurat tentang berapa lama sampah plastik terurai dan cara termudah membedakan sampah organik serta anorganik. Aktivitas ini sangat realistis bagi siswa SD karena memberikan mereka asisten riset cerdas yang mampu menyajikan informasi kompleks dalam bahasa yang sangat sederhana sesuai dengan daya tangkap anak-anak.
Setelah mendapatkan data yang diperlukan dari AI, siswa kemudian berpindah ke aplikasi Canva untuk menyusun informasi tersebut ke dalam desain brosur yang penuh warna dan gambar yang instruktif. Siswa diajak untuk berkreasi membuat slogan-slogan kreatif seperti "Sampahku Tanggung Jawabku" atau "Jadi Pahlawan Bumi Dimulai dari Bak Sampah". Proses transisi dari pengolahan data mentah di AI ke visualisasi kreatif di aplikasi desain melatih kemampuan kognitif tingkat tinggi siswa, di mana mereka belajar untuk mengorganisir informasi agar mudah dipahami oleh orang awam. Teknologi digital di sini berperan sebagai alat bantu literasi dan advokasi lingkungan yang sangat efisien.
Selama proses kreatif ini, guru menekankan pentingnya kejujuran dalam menyampaikan data dan keaslian dalam mendesain. Siswa diajarkan bahwa meskipun teknologi mempermudah pekerjaan, kreativitas dan kepedulian manusia tetap menjadi faktor yang paling utama. Sesi ini juga digunakan untuk mengenalkan konsep ekonomi sirkular secara sederhana, di mana siswa belajar bahwa beberapa jenis sampah anorganik memiliki nilai ekonomis jika dipilah dengan benar. Diskusi ini membuka wawasan siswa bahwa menjaga lingkungan juga bisa berdampak positif bagi kesejahteraan ekonomi (SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui praktik daur ulang yang inovatif dan terencana.
Brosur-brosur hasil karya siswa kemudian dicetak dan dibagikan kepada warga di sekitar sekolah serta dibawa pulang untuk diberikan kepada orang tua. Kegiatan pengabdian masyarakat cilik ini sangat efektif dalam menyebarkan kesadaran lingkungan lebih luas lagi melampaui pagar sekolah. Siswa merasa menjadi bagian dari solusi global dan belajar bahwa mereka memiliki kekuatan untuk mengedukasi orang dewasa melalui karya digital yang mereka buat sendiri. Rasa berdaya ini sangat penting untuk membentuk mentalitas pemimpin masa depan yang proaktif dan memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah-masalah sosial dan lingkungan yang mendesak untuk diselesaikan.
Pendidikan dasar yang memadukan AI dan desain grafis ini membuktikan bahwa anak-anak adalah pembelajar yang sangat cepat dan mampu menguasai teknologi untuk tujuan yang positif. Sekolah berhasil menciptakan jembatan antara kurikulum akademis dengan tantangan kehidupan nyata di masyarakat. Melalui panduan daur ulang ini, siswa tidak hanya mendapatkan nilai di atas kertas, tetapi juga mendapatkan keterampilan hidup yang nyata dan rasa cinta yang mendalam terhadap bumi. Inovasi pembelajaran ini memastikan bahwa semangat pembangunan berkelanjutan bukan lagi sekadar slogan, melainkan tindakan nyata yang didukung oleh kecerdasan digital dan kreativitas tanpa batas dari para penerus bangsa.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia