Urgensi Restorasi Karakter di Tengah Arus Algoritma Media Sosial
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Algoritma media sosial telah dirancang secara sistematis untuk mempertahankan atensi pengguna dalam durasi yang sangat panjang serta intensitas yang sangat tinggi. Bagi para siswa paparan konten yang bersifat repetitif ini secara perlahan membentuk pola pikir dan perilaku yang cenderung bias terhadap realitas. Tanpa filter karakter yang kuat nilai-nilai asing yang kontradiktif dengan norma ketimuran dapat dengan mudah terinternalisasi ke dalam sanubari mereka. Kondisi ini menuntut adanya tindakan preventif berupa restorasi karakter yang berbasis pada nilai-nilai luhur dan integritas moral yang kokoh. Pendidikan tidak boleh kalah cepat dengan arus algoritma yang cenderung memprioritaskan sensasi serta viralitas daripada substansi edukatif yang membangun. Restorasi karakter menjadi garda terdepan dalam menjaga identitas bangsa di tengah gempuran budaya global yang kian dominan dan hegemonik. Sinergi antara keluarga sekolah dan lingkungan sangat menentukan keberhasilan dalam membangun benteng moral bagi generasi muda kita saat ini.
Krisis etika di ruang digital sering kali bermuara pada hilangnya rasa hormat terhadap perbedaan pendapat di antara sesama pengguna internet yang beragam. Siswa cenderung terjebak dalam ruang gema atau echo chamber yang hanya memperkuat keyakinan subjektif mereka tanpa mempedulikan perspektif orang lain. Hal ini menyebabkan lunturnya nilai toleransi dan meningkatnya polarisasi yang tajam di kalangan remaja yang masih dalam tahap pencarian jati diri. Restorasi karakter harus mampu menyasar aspek fundamental mengenai cara menghargai eksistensi orang lain dalam keberagaman ruang publik digital saat ini. Penanaman nilai-nilai luhur harus dilakukan secara konsisten agar tidak hanya menjadi slogan kosong di atas kertas dokumen kurikulum sekolah saja. Jika etika digital tidak segera diperbaiki secara sistemik maka integritas sosial bangsa di masa depan akan berada dalam ancaman disintegrasi. Kesadaran kolektif untuk kembali ke nilai etis adalah kunci utama untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin terdisrupsi secara digital.
Intervensi algoritma yang mengeksploitasi sisi dopamin manusia membuat siswa sulit untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada validasi semu di dunia maya. Mereka sering kali merasa tertekan untuk menampilkan kehidupan yang sempurna demi mendapatkan apresiasi berupa jumlah pengikut atau tanda suka yang banyak. Pergeseran nilai ini menyebabkan orientasi hidup siswa berpindah dari pencapaian prestasi nyata menjadi pengejaran popularitas instan yang sering kali hampa makna. Restorasi karakter perlu menekankan kembali pentingnya proses dan kerja keras sebagai fondasi utama dalam meraih kesuksesan yang berkelanjutan bagi masa depan. Nilai kejujuran juga sering kali terabaikan ketika siswa melakukan plagiarisme atau manipulasi konten demi konten yang dianggap menarik oleh khalayak luas. Oleh karena itu edukasi mengenai integritas akademik harus diperkuat seiring dengan peningkatan intensitas kegiatan pembelajaran berbasis teknologi digital di sekolah. Mengembalikan marwah pendidikan bukan hanya tugas guru melainkan tanggung jawab moral seluruh elemen bangsa yang peduli pada masa depan.
Dalam konteks sosiologis media sosial telah mengubah struktur interaksi manusia dari komunikasi yang mendalam menjadi sekadar pertukaran simbol yang bersifat dangkal. Siswa lebih sering berinteraksi melalui emotikon daripada melalui diskusi yang substantif dan penuh dengan pemikiran kritis yang tajam terhadap masalah. Restorasi karakter harus mampu menghidupkan kembali budaya literasi baca-tulis yang kuat agar siswa memiliki kedalaman berpikir dalam menganalisis informasi digital. Kemampuan untuk menunda kepuasan instan juga perlu dilatih agar mereka tidak mudah terprovokasi oleh konten-konten yang memancing emosi negatif publik. Karakter yang tangguh akan membuat siswa tetap teguh pada prinsip kebenaran meskipun berada di bawah tekanan arus tren yang destruktif. Peran tokoh teladan di dunia nyata sangat dibutuhkan untuk mengimbangi pengaruh pemberi pengaruh atau influencer yang belum tentu memiliki etika baik. Dengan adanya pendampingan yang intensif siswa diharapkan mampu memilah mana yang bermanfaat bagi pertumbuhan jiwa mereka dan mana yang beracun.
Sebagai langkah konkret restorasi karakter dapat diimplementasikan melalui proyek-proyek sosial yang menghubungkan kecakapan digital dengan pengabdian kepada masyarakat luas secara nyata. Siswa diajak untuk menciptakan konten positif yang menginspirasi serta menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan ke seluruh penjuru dunia maya yang tanpa batas. Hal ini akan memberikan pemahaman bahwa teknologi adalah alat untuk menebar kebaikan bukan untuk menyebarkan kebencian atau fitnah yang merugikan. Pengawasan yang bersifat edukatif lebih diutamakan daripada pengawasan yang bersifat represif agar siswa merasa memiliki tanggung jawab moral secara mandiri. Kedewasaan dalam bersikap di media sosial adalah cerminan dari kematangan karakter yang telah dibentuk melalui proses pendidikan yang panjang. Jika kita berhasil merestorasi karakter generasi muda maka arus algoritma sekuat apa pun tidak akan mampu menggoyahkan jati diri mereka. Mari kita jadikan momentum transformasi digital ini sebagai peluang untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas teknologi tetapi juga luhur budi.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.