Validitas TKA 2026 Sebagai Parameter Keberhasilan atau Sumber Tekanan Psikologis
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Menakar validitas Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 memerlukan analisis multidimensional yang mencakup aspek pedagogis, psikologis, dan sosiologis secara komprehensif. Sejauh ini, TKA diklaim sebagai parameter keberhasilan pendidikan yang paling objektif untuk mengukur capaian kurikulum nasional pada jenjang sekolah dasar. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pelaksanaan tes ini sering kali menjadi sumber tekanan psikologis yang hebat bagi siswa dan tenaga pendidik. Validitas sebuah instrumen evaluasi dipertanyakan apabila hasil yang diperoleh tidak berkorelasi positif dengan kemampuan adaptasi siswa di lingkungan nyata. Kita perlu mengkaji secara mendalam apakah angka yang dihasilkan oleh TKA benar-benar merepresentasikan kecerdasan asli atau sekadar ketangkasan dalam menjawab soal.
Tekanan psikologis yang muncul akibat ekspektasi tinggi terhadap hasil TKA dapat berdampak buruk pada kesehatan mental anak sejak usia dini. Fenomena kecemasan ujian atau test anxiety sering kali menyebabkan penurunan performa kognitif siswa saat menghadapi ujian yang sangat menentukan nasib akademiknya. Anak-anak kehilangan kegembiraan dalam belajar karena proses pendidikan berubah menjadi arena kompetisi yang penuh dengan beban target angka-angka. Selain siswa, guru juga mengalami tekanan serupa karena kinerja profesional mereka sering kali dinilai berdasarkan rata-rata nilai ujian siswanya. Kondisi ini menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak sehat, di mana integritas moral terkadang dikorbankan demi mencapai skor yang memuaskan pihak otoritas.
Dalam konteks validitas konten, TKA 2026 harus mampu merefleksikan seluruh spektrum pembelajaran yang telah ditempuh siswa selama masa pendidikan dasar. Jika soal-soal yang disajikan hanya fokus pada aspek hafalan dan rumus tanpa aplikasi praktis, maka validitas tes tersebut menjadi sangat rendah. Evaluasi yang bermutu tinggi adalah evaluasi yang mampu menggali kedalaman pemahaman serta kemampuan siswa dalam menghubungkan berbagai konsep lintas disiplin ilmu. Tekanan untuk mencapai nilai tinggi justru sering kali mendorong siswa untuk mencari jalan pintas yang tidak jujur dalam proses pengerjaan ujian. Oleh karena itu, validitas evaluasi harus selalu diselaraskan dengan tujuan mulia pembentukan karakter dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan yang berkelanjutan.
Perspektif psikologi pendidikan menyarankan bahwa penilaian berkelanjutan jauh lebih valid daripada penilaian yang hanya dilakukan satu kali dalam periode tertentu. TKA 2026 yang bersifat high-stakes testing cenderung menciptakan polarisasi antara siswa yang berprestasi dan mereka yang dianggap gagal dalam kriteria formal. Dampak psikologis dari label "gagal" pada usia sekolah dasar dapat menetap dalam waktu yang lama dan merusak kepercayaan diri siswa. Penting bagi pembuat kebijakan untuk menyediakan mekanisme evaluasi alternatif yang lebih ramah terhadap perkembangan emosional anak bangsa yang sangat rentan. Transisi menuju penilaian yang lebih humanis akan membantu mengurangi tekanan yang tidak perlu sekaligus meningkatkan akurasi penilaian terhadap potensi siswa yang sebenarnya.
Pada akhirnya, validitas TKA 2026 harus diuji kembali agar tetap relevan dengan visi pendidikan nasional yang inklusif dan progresif bagi seluruh rakyat. Parameter keberhasilan pendidikan nasional seharusnya mencakup pertumbuhan karakter, kreativitas, dan resiliensi siswa dalam menghadapi dinamika global yang serba tidak menentu. Tekanan psikologis yang merusak tidak boleh dianggap sebagai konsekuensi normal dari proses pendidikan yang bermutu tinggi di sekolah dasar. Kita harus berani melakukan reformasi sistem penilaian agar lebih berorientasi pada pengembangan manusia secara utuh dan berkelanjutan setiap waktunya. Dengan validitas evaluasi yang tepat, pendidikan akan kembali menjadi proses yang memerdekakan jiwa dan memperkaya wawasan intelektual setiap anak di nusantara.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.