YouTube Memperkenalkan Sejarah Indonesia kepada Siswa SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Mempelajari sejarah seringkali terasa membosankan bagi siswa SD jika hanya mengandalkan buku teks. Banyak siswa merasa kesulitan membayangkan peristiwa masa lalu atau memahami tokoh-tokoh penting tanpa visualisasi yang nyata. YouTube hadir sebagai media pembelajaran yang menarik melalui video edukatif, animasi, dan dokumenter singkat. Video ini memudahkan siswa memahami peristiwa sejarah, tokoh, dan budaya secara visual, sehingga belajar menjadi lebih menyenangkan dan interaktif. Pemanfaatan YouTube mendukung SDGs poin 4, karena memfasilitasi pendidikan berkualitas, inklusif, dan dapat diakses oleh semua siswa.
Dengan menonton video sejarah, siswa dapat melihat ilustrasi peristiwa penting, seperti perjuangan kemerdekaan, perkembangan kerajaan Nusantara, dan budaya lokal dari berbagai daerah. Visualisasi ini membuat siswa lebih mudah mengingat informasi dibandingkan membaca teks saja. Selain itu, video memberikan konteks yang membantu siswa memahami sebab-akibat peristiwa sejarah, sehingga mereka dapat mengaitkan informasi sejarah dengan kehidupan nyata dan lingkungan sekitar.
YouTube juga mendorong siswa untuk lebih aktif berpikir dan berdiskusi. Setelah menonton video, siswa dapat bertanya tentang tokoh atau peristiwa yang mereka belum pahami, atau berdiskusi dengan teman dan guru tentang dampak sejarah terhadap kehidupan saat ini. Proses ini meningkatkan kemampuan analisis, berpikir kritis, dan komunikasi siswa, sekaligus membuat pengalaman belajar lebih bermakna.
Guru tetap memegang peran penting untuk membimbing siswa. Guru dapat memilih video yang sesuai kurikulum dan usia siswa, serta memberikan pertanyaan reflektif agar siswa memahami inti pelajaran. Guru juga bisa meminta siswa membuat proyek kreatif terkait sejarah, seperti poster, drama singkat, atau peta interaktif, yang menambah pemahaman sekaligus melatih kreativitas siswa.
Dengan memanfaatkan YouTube, pembelajaran sejarah di SD menjadi lebih hidup, menyenangkan, dan interaktif. Siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak berpikir kritis, mengamati, dan mengekspresikan ide mereka. Pendekatan ini meningkatkan literasi sejarah, rasa ingin tahu, dan penghargaan terhadap budaya, sejalan dengan tujuan SDGs poin 4 tentang pendidikan berkualitas dan inklusif bagi semua anak.
###
Penulis: Nadya Ulya Octavianisa