7 Perubahan Besar dari Kurikulum Merdeka Menuju Sistem Pembelajaran Mendalam
Perjalanan dari Kurikulum Merdeka menuju pembelajaran
mendalam bukanlah perubahan permukaan tetapi transformasi fundamental. Ini
melibatkan perubahan paradigma tentang apa yang dimaksud dengan
"belajar" dan "memahami". Tujuh perubahan besar yang akan
dibahas mencakup aspek filosofis, metodologis, dan praktis. Setiap perubahan
saling terkait dan membentuk ekosistem pembelajaran yang holistik. Memahami
perubahan-perubahan ini penting bagi semua stakeholder pendidikan.
Kurikulum Merdeka sudah mengurangi beban konten
dibanding kurikulum sebelumnya. Pembelajaran mendalam membawa perubahan ini
lebih jauh dengan fokus radikal pada pemahaman mendalam. Bukan seberapa banyak
yang dipelajari, tetapi seberapa dalam suatu konsep dipahami. Guru didorong
untuk mengajar "less is more" - lebih sedikit topik tetapi dengan
eksplorasi menyeluruh. Siswa diberikan waktu untuk benar-benar memahami, bukan
sekadar mengetahui secara superfisial.
Dalam pembelajaran mendalam, siswa bukan penerima
pasif informasi dari guru. Mereka aktif mengonstruksi pemahaman melalui
eksplorasi, diskusi, dan refleksi. Guru berperan sebagai fasilitator yang
menciptakan kondisi optimal untuk pembelajaran. Pertanyaan-pertanyaan pemantik
digunakan untuk memicu keingintahuan dan investigasi. Pengetahuan yang
dikonstruksi sendiri akan lebih bermakna dan tahan lama.
Pembelajaran mendalam mengakui bahwa pemahaman
diperkaya melalui interaksi sosial. Diskusi kelompok, peer teaching, dan proyek
kolaboratif menjadi strategi utama. Siswa belajar menghargai perspektif berbeda
dan mengintegrasikannya dalam pemahaman mereka. Keterampilan komunikasi dan
kolaborasi berkembang secara natural dalam proses ini. Pembelajaran menjadi
pengalaman sosial yang kaya, bukan aktivitas soliter.
Fokus pembelajaran bergeser dari hasil akhir ke
proses berpikir yang dilalui siswa. Kesalahan dipandang sebagai bagian penting
dari proses pembelajaran, bukan kegagalan. Guru memberikan feedback formatif
yang membantu siswa merefleksikan dan memperbaiki pemahaman. Asesmen dirancang
untuk mengungkap proses berpikir, bukan hanya jawaban benar. Dengan demikian,
pembelajaran menjadi journey yang dinikmati, bukan sekadar race menuju nilai
tinggi.
Perubahan kelima adalah dari pertanyaan tertutup ke
pertanyaan terbuka yang mendorong eksplorasi. Keenam, dari konten abstrak ke
aplikasi kontekstual yang relevan dengan kehidupan siswa. Ketujuh, dari asesmen
berbasis tes ke asesmen autentik yang multidimensional. Ketiga perubahan ini
saling mendukung menciptakan sistem pembelajaran yang koheren. Implementasinya
memerlukan perubahan tidak hanya di kelas tetapi juga di level kebijakan
sekolah.
Mengimplementasikan ketujuh perubahan sekaligus bisa
sangat overwhelming bagi guru dan siswa. Pendekatan bertahap lebih realistis:
mulai dari satu atau dua perubahan yang paling relevan. Dokumentasikan
pembelajaran dari setiap tahap implementasi untuk perbaikan berkelanjutan.
Ciptakan komunitas belajar guru untuk saling mendukung dan berbagi praktik
baik. Dengan pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan, transformasi besar
ini dapat tercapai.
###
Penulis: Neni Mariana