7 Proyek STEAM Sederhana yang Bisa Diterapkan di Kelas 1-6 SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Mengimplementasikan pembelajaran STEAM di kelas tidak harus rumit atau memerlukan biaya besar. Guru dapat memulai dengan proyek-proyek sederhana yang memanfaatkan bahan-bahan di sekitar sekolah atau rumah. Proyek-proyek ini dirancang untuk mengintegrasikan sains, teknologi, engineering, seni, dan matematika dalam satu kegiatan yang menyenangkan. Dengan proyek yang tepat, siswa dapat belajar sambil bermain dan mengembangkan berbagai keterampilan penting. Berikut adalah tujuh proyek STEAM yang mudah diterapkan untuk siswa kelas 1 hingga 6 SD.
Proyek pertama adalah membuat jembatan dari stik es krim atau sedotan. Siswa diminta merancang dan membangun jembatan yang dapat menahan beban tertentu, misalnya beberapa buku atau mainan kecil. Mereka belajar tentang konsep engineering seperti struktur, kekuatan, dan keseimbangan. Aspek matematika muncul ketika siswa menghitung jumlah bahan yang dibutuhkan dan mengukur panjang jembatan. Elemen seni terlihat dari desain estetis jembatan yang mereka buat. Proyek ini sangat efektif untuk mengajarkan konsep problem-solving dan kerja sama tim.
Proyek kedua adalah membuat roket air dari botol plastik bekas. Siswa belajar tentang prinsip-prinsip fisika seperti tekanan udara, gaya dorong, dan gravitasi. Mereka merancang bentuk roket yang aerodinamis dan menghiasnya dengan kreativitas seni masing-masing. Matematika diterapkan dalam mengukur sudut peluncuran dan menghitung jarak tempuh roket. Eksperimen ini sangat menarik karena melibatkan aktivitas outdoor yang menyenangkan. Anak-anak juga belajar tentang pentingnya daur ulang dan memanfaatkan barang bekas.
Proyek ketiga adalah merancang taman mini atau terrarium dalam toples kaca. Siswa mempelajari ekosistem, siklus air, dan kebutuhan makhluk hidup dalam sains. Mereka menggunakan kreativitas untuk menata tanaman, batu, dan dekorasi dalam toples. Aspek matematika muncul saat menghitung proporsi tanah, pasir, dan kerikil yang dibutuhkan. Engineering diterapkan dalam merancang sistem drainase sederhana agar tanaman tidak tergenang. Proyek ini mengajarkan tanggung jawab merawat makhluk hidup dan kesabaran melihat pertumbuhan tanaman.
Proyek keempat adalah membuat alat musik sederhana dari barang bekas seperti kaleng, karet gelang, dan kardus. Siswa belajar tentang konsep gelombang suara, getaran, dan nada dalam sains. Mereka bereksperimen dengan berbagai bahan untuk menghasilkan bunyi yang berbeda-beda. Aspek seni sangat dominan ketika mereka menghias instrumen dan memainkan musik bersama. Matematika digunakan untuk mengukur panjang karet atau ukuran kaleng yang menghasilkan nada tertentu. Proyek ini mengintegrasikan musik, sains, dan kreativitas dalam satu kegiatan yang menyenangkan.
Proyek kelima adalah membuat kincir angin atau pembangkit listrik sederhana. Siswa mempelajari energi terbarukan, konversi energi, dan prinsip kerja turbin. Mereka merancang bilah kincir dengan berbagai bentuk untuk menguji mana yang paling efisien. Engineering diterapkan dalam merakit komponen agar kincir dapat berputar dengan baik. Seni muncul dalam desain dan pewarnaan kincir yang menarik. Matematika digunakan untuk mengukur kecepatan putaran dan membandingkan efisiensi berbagai desain.
Proyek keenam adalah coding sederhana menggunakan aplikasi visual seperti Scratch atau kegiatan unplugged tanpa komputer. Siswa belajar logika pemrograman, algoritma, dan pemecahan masalah secara sistematis. Mereka membuat game sederhana, animasi, atau cerita interaktif yang menggabungkan teknologi dan seni. Matematika terintegrasi dalam koordinat, pola, dan urutan logis. Kegiatan ini memperkenalkan computational thinking sejak dini. Bahkan tanpa komputer, guru bisa mengajarkan coding melalui permainan dan aktivitas hands-on yang menyenangkan.
Proyek ketujuh adalah merancang dan membuat prototype rumah ramah lingkungan dari kardus. Siswa mempelajari konsep arsitektur hijau, efisiensi energi, dan material ramah lingkungan. Mereka menerapkan engineering dalam merancang struktur yang kokoh dan fungsional. Seni terlihat dari desain eksterior dan interior rumah yang kreatif. Matematika digunakan dalam mengukur skala, luas, dan volume ruangan. Proyek ini mengajarkan kesadaran lingkungan sekaligus keterampilan desain dan konstruksi yang praktis.