AI Generatif dan Tantangan Penilaian Otentik di Pendidikan Tinggi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Penilaian akademik menjadi salah satu area paling terdampak oleh penggunaan AI generatif. Mahasiswa mampu menghasilkan karya yang secara teknis memenuhi kriteria penilaian. Namun kualitas teknis tidak selalu mencerminkan pemahaman. Dosen menghadapi tantangan dalam memastikan penilaian tetap adil dan bermakna. Pendidikan berkualitas bergantung pada kemampuan menilai proses, bukan hanya produk. AI memaksa evaluasi akademik untuk bertransformasi.
Penilaian otentik menekankan kemampuan berpikir dan refleksi. AI generatif mampu meniru struktur dan gaya akademik dengan baik. Hal ini membuat penilaian berbasis teks menjadi kurang reliabel. Dosen perlu mengembangkan instrumen evaluasi yang lebih kontekstual.
Diskusi lisan dan refleksi personal menjadi semakin penting. Mahasiswa ditantang menjelaskan argumen secara langsung. Proses ini mengungkap sejauh mana AI berperan dalam pembelajaran. Penilaian tidak lagi sekadar mengukur hasil tertulis. Menjamin pendidikan berkualitas di era AI generatif juga menuntut perubahan paradigma pengajaran. Dosen tidak cukup hanya melarang atau membatasi penggunaan AI.
Namun pendekatan ini membutuhkan waktu dan energi lebih. Dosen menghadapi keterbatasan beban kerja. Tantangan menjamin pendidikan berkualitas tidak hanya pedagogis, tetapi juga struktural.
AI juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung penilaian. Dosen dapat menggunakan teknologi untuk menganalisis pola belajar. Namun keputusan akhir tetap harus berbasis pertimbangan manusia. Etika penilaian menuntut kehati hatian.
Mahasiswa perlu dilampaui dari sekadar target nilai. Penilaian otentik mendorong mereka memahami makna belajar. AI tidak dihilangkan, tetapi ditempatkan secara proporsional.
Dengan pendekatan reflektif, penilaian dapat menjadi sarana pembelajaran. Pendidikan berkualitas tetap terjaga meski teknologi berkembang pesat.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah