AI Hadir di Ruang Kuliah dan Pertanyaan Lama tentang Makna Belajar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Kehadiran kecerdasan buatan di ruang kuliah menandai perubahan besar dalam cara mahasiswa berinteraksi dengan pengetahuan. Teknologi ini tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan mitra berpikir yang mampu menyusun teks, menganalisis data, dan menjawab pertanyaan kompleks. Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang makna belajar itu sendiri. Apakah proses belajar masih terjadi ketika jawaban tersedia dalam hitungan detik. Banyak pihak melihat AI sebagai solusi efisiensi akademik. Namun di sisi lain, muncul kegelisahan tentang kedalaman pemahaman. Ruang kuliah berubah menjadi arena perdebatan antara kemudahan dan keaslian proses belajar. Pertanyaan ini tidak sederhana dan menuntut refleksi yang jujur. AI memaksa dunia pendidikan tinggi untuk meninjau ulang esensi pembelajaran.
Mahasiswa kini memiliki akses pada informasi yang melimpah melalui AI. Tugas akademik dapat diselesaikan dengan cepat dan rapi. Namun kecepatan tidak selalu sejalan dengan pemahaman. Proses berpikir yang seharusnya berlangsung perlahan berisiko terpotong. Ketika AI mengambil alih sebagian proses kognitif, mahasiswa perlu menyadari batasannya. Belajar bukan hanya menghasilkan jawaban, tetapi memahami proses menuju jawaban tersebut.
Di satu sisi, AI membuka peluang pembelajaran yang lebih personal. Mahasiswa dapat mengeksplorasi topik sesuai minat dan kecepatan masing masing. AI mampu memberikan penjelasan alternatif yang mudah dipahami. Dalam konteks ini, belajar dapat menjadi lebih inklusif. Namun tanpa kontrol reflektif, kemudahan ini bisa berubah menjadi ketergantungan. Ketergantungan tersebut berpotensi mengikis kemampuan berpikir mandiri.
Ruang kuliah juga mengalami perubahan dinamika diskusi. AI sering menjadi rujukan awal sebelum argumen dibangun. Hal ini dapat memperkaya perspektif jika digunakan secara kritis. Namun jika diterima mentah mentah, diskusi kehilangan kedalaman. Proses dialektika yang menjadi inti pembelajaran akademik berisiko melemah. Mahasiswa perlu diajak untuk memosisikan AI sebagai pemantik, bukan pengganti pemikiran.
Pertanyaan tentang kejujuran akademik turut mengemuka. Batas antara bantuan dan penggantian peran menjadi kabur. Tanpa kesadaran etis, penggunaan AI dapat mereduksi nilai usaha intelektual. Belajar menuntut keterlibatan aktif, bukan sekadar hasil akhir. Ruang kuliah harus menjadi tempat penanaman etika penggunaan teknologi.
Di sisi lain, menolak AI sepenuhnya bukan solusi realistis. Teknologi ini telah menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan global. Tantangannya adalah mengintegrasikan AI secara bijak. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan refleksi kritis. Dengan demikian, AI menjadi alat untuk memperdalam pemahaman, bukan jalan pintas.
Kehadiran AI di ruang kuliah menuntut redefinisi belajar. Belajar tidak lagi diukur dari seberapa cepat tugas selesai. Ia diukur dari sejauh mana pemahaman terbentuk. Jika dimanfaatkan dengan kesadaran, AI dapat memperkaya proses akademik. Namun tanpa refleksi, ia berisiko mengosongkan makna belajar. Di sinilah tanggung jawab intelektual mahasiswa diuji.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah