“Al Antara dan Peran Dosen: Apakah Nalar Mahasiswa Masih Terjaga?”
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Perkembangan teknologi Al Antara telah membawa dampak yang signifikan pada dunia pendidikan, khususnya dalam cara mahasiswa belajar dan mengakses informasi. Di satu sisi, teknologi ini memberikan kemudahan yang luar biasa untuk memperluas wawasan dan memperoleh pengetahuan baru. Di sisi lain, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang apakah kemampuan berpikir kritis dan nalar mahasiswa masih dapat terjaga dengan baik.
Sebelum era digital yang serba canggih ini, mahasiswa lebih bergantung pada dosen sebagai sumber utama informasi dan panduan dalam pembelajaran. Proses pembelajaran lebih terstruktur, dan dosen memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing mahasiswa untuk mengembangkan cara berpikir yang benar dan kritis. Nalar mahasiswa terbentuk melalui proses diskusi, tugas yang membutuhkan analisis mendalam, serta bimbingan langsung dari dosen.
Namun, dengan munculnya Al Antara, banyak mahasiswa yang mulai mengandalkan teknologi untuk menyelesaikan tugas akademik mereka. Mulai dari mencari referensi hingga menyusun makalah atau laporan, teknologi dapat memberikan bantuan yang signifikan dalam waktu yang singkat. Namun, hal ini seringkali membuat mahasiswa tidak lagi melakukan proses berpikir yang mendalam, sehingga kemampuan nalar mereka tidak terasah dengan baik. Bahkan, ada sebagian mahasiswa yang menggunakan teknologi dengan cara yang tidak etis, seperti menyalin karya orang lain atau menggunakan bantuan kecerdasan buatan tanpa mengakui sumbernya.
Peran dosen dalam menjaga nalar mahasiswa menjadi semakin penting di kondisi seperti ini. Dosen harus mampu mengidentifikasi tanda-tanda bahwa mahasiswa mungkin tidak mengembangkan kemampuan berpikir mereka dengan baik, serta mengambil langkah-langkah yang tepat untuk membantu mereka. Hal ini bisa meliputi pengubahan metode pembelajaran menjadi lebih interaktif, memberikan tugas yang membutuhkan analisis dan kreativitas, serta mengajarkan mahasiswa tentang pentingnya berpikir kritis dan etika akademik.
Namun, menjaga nalar mahasiswa tidak dapat dilakukan oleh dosen sendirian. Dibutuhkan kerja sama yang erat antara dosen, institusi pendidikan, orang tua, dan masyarakat secara luas. Kurikulum perlu disesuaikan untuk lebih fokus pada pengembangan kemampuan berpikir, sistem penilaian perlu diubah untuk mengukur bukan hanya hasil tetapi juga proses berpikir, dan mahasiswa sendiri perlu memiliki kesadaran akan pentingnya mengembangkan nalar yang kuat. Hanya dengan upaya bersama ini, kita dapat memastikan bahwa nalar mahasiswa tetap terjaga bahkan di tengah perkembangan teknologi yang pesat.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah