Anak Bukan Mesin Nilai: Saatnya Pendidikan Ramah Mental
S2dikdas.fip.unesa.ac.id.
SURABAYA— Di sebuah ruang kelas di Jakarta, seorang siswa SMP menunduk lesu
saat lembar nilai ujiannya dibagikan. Angka yang tertera di kertas itu tak
mencapai standar kelulusan. Ia merasa gagal. Padahal, beberapa hari sebelumnya,
ia belajar hingga larut malam, mengurangi waktu bermain, bahkan mengorbankan
waktu istirahatnya. Namun tetap saja, yang dilihat hanya satu hal: angkanya.
Fenomena seperti ini bukan hal baru,
di banyak sekolah, nilai akademik masih dianggap sebagai tolok ukur utama
keberhasilan siswa. Ujian, rapor, dan ranking menjadi sorotan utama, sementara
proses belajar, kesejahteraan emosional, dan kondisi mental siswa kerap
terabaikan. Padahal, setiap anak memiliki cara belajar, kecepatan memahami, dan
latar belakang yang berbeda. Fokus berlebihan pada capaian angka membuat banyak
siswa merasa bahwa nilai adalah segalanya. Mereka belajar karena takut, bukan
karena ingin tahu. Mereka merasa harus sempurna setiap saat, dan ketika gagal,
harga diri mereka ikut runtuh. Rasa cemas, stres, bahkan depresi mulai muncul
diam-diam di usia yang seharusnya dipenuhi semangat dan rasa ingin tahu.
Tak hanya siswa, para guru pun tak
luput dari tekanan sistem yang menuntut hasil instan. Mereka dituntut untuk
mengejar target kurikulum, mengisi laporan administrasi, dan menyiapkan ujian
yang memenuhi standar nasional. Di tengah beban itu, perhatian pada kondisi
emosional siswa menjadi sesuatu yang tersisih, bukan karena tidak peduli,
tetapi karena tidak diberi cukup ruang dan waktu.
Namun, kini mulai muncul kesadaran
baru di dunia pendidikan: bahwa angka bukan segalanya, dan pendidikan yang
ideal seharusnya juga ramah terhadap kesehatan mental. Beberapa sekolah mulai
mengubah pendekatan mereka. Konseling rutin, sesi refleksi diri, hingga
kegiatan yang mendukung keseimbangan emosi seperti yoga, jurnal harian, atau
permainan relaksasi mulai diperkenalkan dalam aktivitas belajar.
Pendidikan ramah mental bukan berarti
mengabaikan akademik, tetapi memberi ruang agar anak tumbuh secara
utuh—berpikir, merasa, dan berkembang sesuai potensinya. Kurikulum Merdeka,
misalnya, memberikan lebih banyak keleluasaan bagi guru untuk menyesuaikan
metode dengan kebutuhan murid. Ada ruang untuk berdiskusi, untuk mengenal
karakter anak, dan untuk belajar tanpa tekanan berlebihan.
Sudah saatnya kita berhenti melihat
anak hanya sebagai mesin nilai. Mereka bukan robot yang bisa diprogram untuk
selalu benar, selalu unggul, dan selalu menang. Mereka adalah manusia muda yang
sedang belajar tentang dunia dan tentang dirinya sendiri. Mereka butuh
dukungan, bukan tekanan. Mereka butuh dipahami, bukan sekadar diukur. Jika kita
ingin menciptakan generasi masa depan yang sehat, kuat, dan siap menghadapi
tantangan, maka pendidikan harus mulai berpihak pada mental yang sehat. Karena
sejatinya, pendidikan adalah proses menumbuhkan manusia, bukan sekadar
menghasilkan angka.
Penulis: Shevila Salsabila Al Aziz
Sumber: Pinterest