Pendidikan yang Relevan: Menggilir Paradigma dari Hafalan Menuju Kemampuan Pemecahan Masalah
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Salah satu kekhawatiran utama dalam dunia pendidikan saat ini adalah kurangnya relevansi antara apa yang diajarkan di sekolah dengan kebutuhan dunia kerja dan kehidupan sehari-hari. Banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi merasa bahwa pengetahuan yang mereka peroleh melalui hafalan tidak cukup untuk membantu mereka menghadapi tantangan yang ada di lapangan. Kondisi ini membuat pendidikan terasa seperti sesuatu yang dipaksakan dan tidak memiliki makna yang sebenarnya bagi siswa. Untuk mengatasi hal ini, kita perlu menggilir paradigma pembelajaran dari hafalan menuju kemampuan pemecahan masalah agar pendidikan menjadi lebih relevan dengan kehidupan modern.
Pendidikan yang relevan harus mampu menjawab pertanyaan mengapa siswa perlu belajar sesuatu dan bagaimana hal itu dapat digunakan dalam kehidupan mereka. Ketika pembelajaran fokus pada pemecahan masalah, siswa secara alami akan melihat hubungan antara materi pelajaran dan situasi nyata. Misalnya, ketika belajar tentang ekonomi, siswa dapat diajak untuk menganalisis masalah kemiskinan di daerah mereka dan menyusun strategi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ketika belajar tentang ilmu komputer, siswa dapat membuat aplikasi yang membantu menyelesaikan masalah sehari-hari seperti manajemen waktu atau pemantauan kesehatan. Dengan cara ini, pendidikan tidak lagi terasa seperti tugas yang harus diselesaikan, tetapi sebagai alat yang berguna untuk meningkatkan kualitas hidup.
Untuk menciptakan pendidikan yang relevan, perlu dilakukan penyesuaian pada kurikulum dan metode pengajaran. Kurikulum harus lebih fleksibel dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, dengan penekanan pada keterampilan yang akan dibutuhkan di masa depan seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan digital. Metode pengajaran harus lebih beragam dan berpusat pada siswa, dengan penggunaan teknologi dan sumber daya yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Guru juga perlu menjadi fasilitator yang mampu menghubungkan pembelajaran dengan dunia luar sekolah, seperti dengan mengundang praktisi dari berbagai bidang untuk berbagi pengalaman atau mengorganisir kunjungan studi ke tempat kerja atau organisasi masyarakat.
Banyak contoh baik dari sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia yang telah berhasil menerapkan pendidikan berbasis pemecahan masalah dan melihat peningkatan yang signifikan dalam motivasi dan prestasi siswa. Di beberapa sekolah di Surabaya, misalnya, siswa diajak untuk mengembangkan proyek yang berkaitan dengan pengelolaan sampah dan energi terbarukan di lingkungan sekitar sekolah. Hasilnya, tidak hanya siswa yang mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang ilmu lingkungan, tetapi juga masyarakat sekitar yang merasakan manfaat dari solusi yang mereka ciptakan. Di perguruan tinggi, mahasiswa sering bekerja sama dengan industri untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi perusahaan, sehingga mereka mendapatkan pengalaman praktis yang berharga sebelum lulus.
Meskipun tantangan masih ada, langkah-langkah yang telah diambil menunjukkan bahwa perubahan paradigma mungkin terjadi dan memberikan hasil yang positif. Pendidikan yang relevan tidak hanya akan membekali siswa dengan kemampuan untuk sukses di dunia kerja, tetapi juga akan membantu mereka menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan mampu berkontribusi pada pembangunan negara. Dengan terus menggilir paradigma dari hafalan ke pemecahan masalah, kita dapat memastikan bahwa pendidikan di Indonesia tetap relevan dan mampu memenuhi kebutuhan generasi muda yang sedang berkembang.
###
Penulis : Ailsa Widya Imamatuzzadah