Analisis ChatGPT dalam Menyusun Kurikulum Toleransi Saat Momen Natal di Sekolah Negeri
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Menjelang peringatan Natal, guru-guru di berbagai sekolah negeri mulai mengeksplorasi penggunaan ChatGPT untuk menyusun modul pembelajaran keberagaman yang inklusif. Kecerdasan buatan ini digunakan untuk mengumpulkan referensi mengenai nilai-nilai universal perdamaian yang ada dalam setiap agama, yang kemudian diintegrasikan ke dalam mata pelajaran pendidikan pancasila dan kewarganegaraan. Upaya ini merupakan langkah konkret dalam mendukung SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui lingkungan sekolah yang harmonis.
Penggunaan AI dalam merancang materi pembelajaran memungkinkan guru untuk menyajikan data yang lebih luas mengenai sejarah toleransi di Indonesia. ChatGPT dapat membantu membuat draf simulasi diskusi kelas yang menarik, di mana siswa diajak untuk memahami makna berbagi dan cinta kasih tanpa melihat perbedaan keyakinan. Pendidikan karakter seperti ini sangat krusial di era globalisasi untuk mencegah radikalisme dan memperkuat ikatan sosial antar siswa sejak dini, sehingga sekolah benar-benar menjadi laboratorium toleransi bagi generasi muda.
Selain itu, teknologi ini juga dimanfaatkan untuk menerjemahkan materi-materi bertema Natal dari berbagai bahasa dunia guna memberikan perspektif global kepada siswa. Dengan bantuan alat terjemah yang terintegrasi, siswa dapat mempelajari bagaimana pesan perdamaian disampaikan di berbagai belahan bumi. Hal ini memperkaya wawasan kebangsaan mereka dan menanamkan kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari warga dunia yang bertanggung jawab untuk menjaga kerukunan dan stabilitas global melalui sikap saling menghormati.
Di sisi lain, integrasi AI di sekolah juga menuntut para pendidik untuk tetap kritis terhadap output yang dihasilkan. Guru harus memastikan bahwa konten yang disarankan oleh ChatGPT tetap sesuai dengan kearifan lokal dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Oleh karena itu, diskusi antarguru melalui platform digital menjadi rutinitas baru untuk memvalidasi materi sebelum diajarkan kepada siswa. Transformasi digital ini membuktikan bahwa teknologi dapat memperkuat nilai-nilai kemanusiaan jika dikelola dengan integritas dan niat yang tulus.
Kesimpulannya, perayaan Natal di sekolah kini menjadi momentum untuk menguji efektivitas teknologi dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan secara bijak, proses penanaman karakter toleransi menjadi lebih dinamis dan relevan dengan gaya belajar siswa masa kini. Inovasi ini diharapkan dapat terus berkembang, menjadikan sistem pendidikan Indonesia lebih adaptif dan mampu menjawab tantangan keberagaman di masa depan demi terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur.
###
Penulis: Anisa Rahmawati