Ancaman Buta Logika: Mengapa Matematika SD Harus Direformasi Total?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Merosotnya kemampuan kuantitatif siswa Sekolah Dasar (SD) dalam berbagai ujian standar nasional adalah indikasi nyata bahwa bangsa kita sedang menghadapi ancaman "buta logika". Matematika, yang seharusnya menjadi bahasa universal untuk mengasah ketajaman nalar, justru menjadi mata pelajaran yang paling dihindari dan ditakuti oleh sebagian besar anak-anak SD. Rendahnya skor numerasi ini bukan sekadar masalah akademis, melainkan cermin dari gagalnya sistem pendidikan dasar dalam menanamkan kemampuan berpikir kritis dan sistematis yang sangat dibutuhkan di era ekonomi digital.
Salah satu penyebab utama kegagalan ini adalah pendekatan pembelajaran yang terlalu "teks-sentris" dan menjauh dari realitas kehidupan anak. Di banyak SD, matematika diajarkan sebagai deretan angka mati yang harus dioperasikan menurut instruksi guru, bukan sebagai alat untuk memecahkan masalah sehari-hari. Siswa dilatih untuk menjadi terampil dalam menghitung cepat secara mekanis, namun kehilangan kemampuan untuk menalar mengapa sebuah solusi diperlukan. Akibatnya, saat diberikan soal cerita atau soal logika yang sedikit berbeda dari contoh buku, siswa langsung mengalami kebuntuan intelektual.
Kegagalan di tingkat SD ini berdampak domino pada minat siswa terhadap bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di masa depan. Jika fondasi logika angka sudah rapuh sejak usia 7 hingga 12 tahun, mustahil bagi kita untuk mencetak insinyur atau ilmuwan hebat di kemudian hari. Anak-anak yang merasa gagal dalam matematika di SD cenderung membangun persepsi diri yang negatif terhadap kemampuan intelektual mereka sendiri, yang berujung pada rendahnya kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif dan berbasis data.
Pendidikan dasar kita juga terjebak dalam budaya "asal lulus" yang mengabaikan ketuntasan belajar secara substansial. Banyak siswa yang sebenarnya belum menguasai konsep dasar perkalian atau pembagian tetap dipaksakan naik kelas karena aturan administrasi. Ketidaktuntasan ini menumpuk seperti bola salju, di mana pada kelas-kelas yang lebih tinggi, siswa semakin tidak mengerti materi karena materi dasarnya belum kokoh. Skor matematika yang rendah di akhir masa SD hanyalah akumulasi dari ketidaktuntasan belajar yang dibiarkan bertahun-tahun tanpa ada intervensi yang serius.
Reformasi total pada metode pembelajaran matematika di SD harus melibatkan penggunaan teknologi dan manipulatif matematika (alat peraga fisik). Anak-anak perlu "melihat" dan "menyentuh" matematika sebelum mereka bisa membayangkannya secara abstrak. Pembelajaran harus diubah menjadi aktivitas eksplorasi yang menantang rasa ingin tahu, bukan lagi sesi latihan soal yang menjemukan. Guru harus didorong untuk menciptakan lingkungan kelas di mana kesalahan dalam berhitung tidak dianggap sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses penemuan logika.
Kesadaran nasional harus dibangkitkan bahwa matematika adalah hak dasar setiap anak untuk bisa berpikir jernih. Kita tidak bisa membiarkan generasi mendatang lumpuh secara logika hanya karena sistem pendidikan dasar kita gagal menyajikan angka secara menarik. Penyelamatan pendidikan matematika di SD harus menjadi agenda prioritas pemerintah jika ingin Indonesia berdaulat secara teknologi. Tanpa logika yang kuat, kita hanya akan menjadi bangsa konsumen yang gagap menghadapi perubahan zaman yang serba cepat.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah