Ancaman Buta Numerasi di Balik Kelancaran Operasi Hitung Dasar Masyarakat Modern
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Fenomena yang sangat ironis tengah melanda masyarakat modern, di mana banyak individu tampak lancar dalam melakukan operasi hitung dasar namun sebenarnya mengalami buta numerasi. Buta numerasi atau innumeracy adalah ketidakmampuan untuk memahami besaran, risiko, dan probabilitas yang terkandung dalam informasi numerik yang bertebaran di ruang publik. Seseorang mungkin bisa dengan mudah menjawab hasil perkalian angka, tetapi ia gagal memahami dampak bunga majemuk pada utang yang diambilnya secara impulsif. Ketidaktahuan akan makna di balik angka ini menciptakan kerentanan sosial yang sangat besar terhadap manipulasi ekonomi dan penyebaran hoaks berbasis data statistik. Ancaman ini sering kali tidak disadari karena masyarakat merasa sudah "bisa matematika" hanya dengan modal ijazah pendidikan dasar yang bersifat formal semata. Padahal, buta numerasi adalah hambatan serius bagi partisipasi warga negara dalam pembangunan nasional yang membutuhkan pemahaman kuantitatif yang lebih komprehensif.
Ketidakmampuan dalam menginterpretasikan probabilitas sering kali membuat masyarakat terjebak dalam kecemasan yang tidak rasional atau justru keberanian yang sangat ceroboh. Misalnya, dalam menghadapi isu kesehatan global, buta numerasi membuat seseorang sulit membedakan antara risiko yang sangat kecil dan ancaman yang nyata secara statistik. Mereka mungkin lebih takut pada peristiwa yang sangat jarang terjadi namun dramatis, daripada ancaman kesehatan yang secara statistik jauh lebih mematikan bagi populasi. Kurangnya pemahaman tentang konsep skala juga menyebabkan orang sulit membayangkan perbedaan antara angka jutaan, miliaran, dan triliunan dalam anggaran negara yang sangat besar. Hal ini mengakibatkan diskusi publik mengenai kebijakan ekonomi sering kali menjadi dangkal dan hanya berputar pada sentimen emosional tanpa landasan data yang kuat. Oleh karena itu, literasi numerasi harus dipandang sebagai keterampilan hidup yang fundamental bagi keselamatan dan kesejahteraan setiap individu di era modern.
Bahaya buta numerasi juga merambah ke dunia digital, di mana algoritma media sosial sering kali menyajikan data yang telah dipelintir untuk menggiring opini publik tertentu. Individu yang tidak memiliki daya kritis numerasi akan dengan mudah memercayai grafik yang menyesatkan atau persentase yang tidak memiliki basis data yang sahih secara ilmiah. Mereka cenderung hanya melihat angka yang mendukung prasangka pribadinya tanpa mengevaluasi metodologi pengumpulan data yang mendasarinya secara objektif dan jujur. Manipulasi data menjadi sangat efektif di tengah masyarakat yang menganggap angka sebagai kebenaran mutlak yang tidak perlu dipertanyakan lagi keabsahannya. Pendidikan matematika yang hanya fokus pada prosedur hitung tanpa pemahaman konteks turut berkontribusi pada terciptanya generasi yang buta numerasi secara fungsional. Kita memerlukan revolusi dalam pengajaran matematika agar lebih menekankan pada aplikasi praktis dan pembacaan kritis terhadap data yang ada di sekeliling kita.
Masyarakat yang menderita buta numerasi juga cenderung menjadi korban penipuan finansial yang menggunakan skema investasi dengan janji imbal hasil yang sangat tidak masuk akal. Tanpa kemampuan nalar numerasi, logika sederhana mengenai korelasi antara risiko tinggi dan keuntungan tinggi sering kali terabaikan oleh godaan angka-angka yang sangat menggiurkan. Mereka tidak mampu melakukan kalkulasi sederhana tentang keberlanjutan sebuah sistem ekonomi dan hanya terjebak dalam euforia angka jangka pendek yang semu dan manipulatif. Kesadaran akan ancaman buta numerasi ini harus mulai ditanamkan sejak dini melalui integrasi literasi finansial dalam kurikulum matematika di setiap jenjang sekolah. Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen data, tetapi juga menjadi pengelola informasi yang cerdas dan bertanggung jawab bagi kehidupannya. Perlindungan terhadap hak-hak konsumen dan warga negara sangat bergantung pada tingkat literasi numerasi yang dimiliki oleh populasi secara keseluruhan.
Secara keseluruhan, tantangan untuk memberantas buta numerasi di tengah kelancaran operasi hitung dasar adalah tugas besar bagi para pendidik dan pengambil kebijakan. Kita tidak boleh terlena dengan angka literasi baca tulis konvensional jika kemampuan literasi numerasi masyarakat kita masih berada pada level yang sangat mengkhawatirkan. Pemahaman yang mendalam tentang angka akan memberikan kekuatan bagi setiap individu untuk membuat keputusan yang lebih rasional, mandiri, dan berbasis bukti nyata. Matematika harus dikembalikan fungsinya sebagai alat bantu untuk membedah realitas, bukan sekadar permainan simbol di atas kertas yang tidak memiliki makna praktis. Mari kita bersama-sama membangun kesadaran akan pentingnya literasi numerasi sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa secara utuh dan menyeluruh. Akhirnya, masyarakat yang literat secara numerik akan menjadi fondasi bagi demokrasi yang sehat dan ekonomi yang tangguh di masa depan yang penuh persaingan.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.