Ancaman Diskontinuitas Ritme Belajar Siswa Sekolah Dasar Akibat Jeda Libur Terlalu Lama
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Ritme belajar adalah harmoni antara aktivitas kognitif, disiplin waktu, dan kesiapan mental yang dibentuk secara bertahap di sekolah. Ketika jeda libur diberikan dalam durasi yang terlalu lama, harmoni ini cenderung mengalami diskontinuitas yang cukup mengkhawatirkan. Siswa kehilangan pola rutinitas yang biasanya membantu mereka untuk fokus pada pencapaian target-target pembelajaran tertentu. Gangguan pada ritme ini berakibat pada sulitnya siswa untuk kembali ke performa terbaik mereka saat tahun ajaran baru dimulai. Kondisi psikologis anak yang sudah terbiasa dengan pola hidup santai akan menolak tekanan akademik yang mendadak muncul. Fenomena diskontinuitas ini memerlukan perhatian serius dari para praktisi pendidikan agar produktivitas siswa tidak menurun secara permanen.
Diskontinuitas ritme belajar sering kali dipicu oleh perubahan drastis dalam manajemen waktu harian anak selama berada di rumah. Jam tidur yang tidak teratur dan dominasi waktu bermain mengubah jam biologis serta kesiapan mental untuk belajar. Akibatnya, pada hari-hari pertama masuk sekolah, banyak siswa yang mengalami kelelahan fisik dan penurunan daya konsentrasi secara kolektif. Mereka memerlukan waktu adaptasi ulang yang tidak sebentar untuk menyelaraskan diri kembali dengan tuntutan kurikulum yang ada. Guru sering kali merasa frustrasi melihat kemunduran drastis pada kemampuan dasar yang sebelumnya sudah dikuasai siswa. Masalah ini membuktikan bahwa keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada stabilitas ritme kegiatan yang dilakukan secara konsisten.
Secara ilmiah, pembentukan kebiasaan baru atau habit formation memerlukan waktu yang cukup lama dan tidak boleh terputus secara tiba-tiba. Libur panjang bertindak sebagai faktor eksternal yang memutus rantai pembentukan kebiasaan belajar positif pada anak sekolah dasar. Ketika rantai tersebut terputus, siswa cenderung kembali ke pola perilaku lama yang lebih instinktif dan kurang disiplin. Pemulihan kebiasaan ini menuntut upaya yang jauh lebih berat dibandingkan saat pertama kali menanamkannya di awal semester. Kerugian waktu yang dialami untuk proses normalisasi ini sering kali tidak disadari oleh banyak pihak, termasuk orang tua siswa. Oleh karena itu, menjaga kontinuitas aktivitas intelektual meskipun dalam skala kecil sangatlah penting untuk dilakukan selama liburan.
Ketidakstabilan ritme belajar juga berdampak pada kesehatan mental anak yang merasa tertekan saat harus kembali ke rutinitas sekolah. Perasaan cemas dan enggan sekolah atau school refusal sering kali muncul akibat kenyamanan berlebihan selama masa liburan. Kontradiksi antara kebebasan total dan aturan ketat sekolah menciptakan konflik internal dalam diri anak yang masih labil. Jika hal ini tidak dikelola dengan baik, motivasi belajar siswa akan menurun secara signifikan dalam jangka waktu yang panjang. Siswa mungkin akan memandang sekolah sebagai tempat yang mengekang kebebasan daripada tempat untuk berkembang secara optimal. Dampak emosional ini dapat mengganggu pencapaian kompetensi dasar yang seharusnya dicapai oleh siswa pada tingkat tersebut.
Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu mempertimbangkan model kalender akademik yang lebih seimbang untuk meminimalisasi risiko diskontinuitas ini. Pembagian masa libur yang lebih singkat namun lebih sering frekuensinya mungkin bisa menjadi alternatif yang patut untuk dikaji lebih dalam. Selain itu, pemberian panduan kegiatan harian bagi siswa selama liburan dapat membantu menjaga ritme agar tidak sepenuhnya terputus. Pendekatan ini bertujuan agar transisi antara rumah dan sekolah berjalan dengan lebih halus dan tidak mengejutkan bagi psikologi anak. Pendidikan adalah sebuah proses maraton yang memerlukan konsistensi langkah, bukan sekadar lari cepat yang diselingi berhenti terlalu lama. Dengan menjaga ritme yang stabil, diharapkan kualitas luaran pendidikan dasar Indonesia dapat terus meningkat secara berkelanjutan.
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi