Ancaman Lost Generation: Dampak Pengabaian Kualitas SD terhadap Daya Saing Global
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Indonesia kini berada di bawah bayang-bayang ancaman lost generation setelah skor TKA nasional menunjukkan tren penurunan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir secara berturut-turut. Para analis pendidikan memperingatkan bahwa pengabaian kualitas di jenjang SD sebagai fondasi awal akan berakibat pada rendahnya produktivitas dan daya saing tenaga kerja kita di masa depan. Di era di mana keterampilan berpikir kritis, literasi data, dan kecerdasan adaptif menjadi mata uang global, lulusan kita justru tertatih-tatih karena tidak dibekali dasar nalar yang kuat sejak masa sekolah dasar. Kegagalan di bangku SD adalah kegagalan kolektif bangsa dalam menyiapkan generasi yang kompetitif.
Pengabaian mutu di SD menyebabkan siswa kehilangan masa emas untuk membangun sirkuit logika yang kompleks di otak mereka yang sangat dibutuhkan untuk analisis tingkat tinggi. Ketika mereka lulus dengan kompetensi dasar yang rapuh, mereka akan kesulitan menyerap pelatihan tingkat tinggi atau berinovasi di bidang industri kreatif dan teknologi yang dinamis. Hal ini akan menyebabkan Indonesia hanya menjadi pasar konsumen bagi produk luar negeri karena minimnya SDM lokal yang mampu menciptakan solusi berbasis sains dan teknologi yang inovatif. Skor TKA yang rendah bukan sekadar angka ujian, melainkan indikator bahwa daya saing bangsa kita sedang mengalami erosi serius yang mengkhawatirkan.
Reformasi pendidikan dasar adalah harga mati yang tidak bisa ditawar jika Indonesia tidak ingin sekadar menjadi penonton dalam kemajuan peradaban global yang kian cepat. Kita membutuhkan generasi yang mampu berpikir cepat, berlogika tajam, dan memiliki literasi yang luas untuk menavigasi kompleksitas masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Hal ini hanya bisa dicapai jika kita berhenti menganggap remeh pendidikan di sekolah dasar dan mulai memperlakukannya sebagai urusan kedaulatan nasional yang sangat vital. Memperkuat sekolah dasar berarti menyelamatkan satu generasi dari ketertinggalan intelektual dan menjamin posisi Indonesia sebagai pemain kunci di panggung dunia.
Fenomena lost generation ini juga dipicu oleh kurangnya penanaman etos kerja dan disiplin intelektual sejak tingkat sekolah dasar akibat metode belajar yang terlalu memanjakan atau tidak menantang. Anak-anak tidak dilatih untuk menghadapi kegagalan dalam proses belajar nalar, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang rapuh dalam menghadapi tekanan akademik tingkat tinggi. Numerasi dan literasi seharusnya menjadi ajang latihan ketangguhan berpikir bagi siswa sebelum mereka menghadapi kerasnya kompetisi global di masa dewasa kelak. Tanpa standar kualitas yang ketat di tingkat dasar, kita hanya sedang memupuk kelemahan sistemik yang akan meledak di masa depan dalam bentuk kegagalan ekonomi nasional.
Selain itu, pengabaian pendidikan dasar berdampak pada hilangnya kemampuan regenerasi peneliti dan ilmuwan handal di masa depan karena minat terhadap sains sudah mati sejak di bangku SD. Tanpa dasar matematika dan logika yang kuat, siswa cenderung menghindari bidang STEM yang merupakan motor penggerak ekonomi modern di seluruh dunia. Kita terancam mengalami krisis kepakaran di bidang-bidang strategis jika fondasi intelektual anak-anak kita tidak diperbaiki secara menyeluruh mulai dari sekarang. Masa depan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh apa yang dibaca dan bagaimana anak-anaknya menghitung di sekolah dasar mereka.
Sebagai penutup, ancaman generasi yang hilang bukanlah isapan jempol semata jika kita tetap membiarkan kualitas pendidikan dasar kita jeblok seperti yang tercermin dalam nilai TKA. Kita harus segera sadar bahwa penghematan anggaran atau perhatian pada mutu SD adalah kesalahan fatal yang akan dibayar mahal oleh generasi mendatang. Mari kita kembalikan sekolah dasar sebagai kawah candradimuka intelektual yang mampu melahirkan generasi emas yang sesungguhnya. Kebangkitan Indonesia dimulai dari keberanian kita mengakui kegagalan di tingkat dasar dan memperbaikinya dengan komitmen penuh demi masa depan yang lebih cerah bagi seluruh anak bangsa.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah