Apakah AI Mengikis Rasa Ingin Tahu Mahasiswa atau Justru Menyalakannya
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Rasa ingin tahu merupakan jantung dari proses belajar. Tanpa dorongan ini, belajar kehilangan arah dan makna. Kehadiran AI di ruang kuliah menimbulkan pertanyaan besar tentang nasib rasa ingin tahu mahasiswa. Jawaban instan yang disediakan teknologi dapat memuaskan rasa penasaran secara cepat. Namun kepuasan instan sering kali menghentikan pencarian lebih lanjut. Di sisi lain, AI juga membuka pintu pertanyaan baru yang sebelumnya tidak terpikirkan. Ruang kuliah menjadi tempat tarik menarik antara kepuasan cepat dan eksplorasi mendalam. Apakah rasa ingin tahu melemah atau justru menyala kembali menjadi isu penting. AI hadir sebagai katalis sekaligus potensi penghambat.
Ketika mahasiswa terbiasa memperoleh jawaban cepat, dorongan untuk bertanya lebih jauh dapat menurun. Proses pencarian yang biasanya memicu rasa ingin tahu menjadi singkat. Ketidakpastian yang menantang pikiran berkurang. Padahal, rasa ingin tahu tumbuh dari ketidaktahuan. Tanpa ruang bagi ketidaktahuan, eksplorasi menjadi terbatas.
Namun, AI juga dapat memperluas cakrawala pertanyaan. Mahasiswa dapat menjelajahi topik lintas bidang dengan mudah. Informasi yang beragam memicu rasa ingin tahu baru. Pertanyaan tidak lagi berhenti pada satu disiplin. Dalam konteks ini, AI menjadi pemantik eksplorasi intelektual. Rasa ingin tahu justru berkembang lebih luas.
Ruang kuliah berperan penting dalam mengarahkan dinamika ini. Diskusi yang menekankan pertanyaan lebih diutamakan daripada jawaban. AI dapat dijadikan alat untuk memancing pertanyaan kritis. Mahasiswa diajak untuk tidak puas dengan jawaban pertama. Proses bertanya kembali menjadi inti pembelajaran.
Aspek psikologis juga mempengaruhi hubungan AI dan rasa ingin tahu. Rasa puas yang instan dapat menumpulkan keinginan mengeksplorasi. Sebaliknya, tantangan intelektual dapat menyalakan kembali semangat belajar. AI perlu ditempatkan sebagai pemicu tantangan, bukan pengganti pencarian. Kesadaran ini menentukan arah penggunaan teknologi.
Menariknya, era AI menuntut keterampilan bertanya yang lebih tajam. Informasi melimpah membuat pertanyaan menjadi lebih penting daripada jawaban. Mahasiswa yang mampu merumuskan pertanyaan bermakna akan unggul. AI menyediakan bahan mentah. Manusia memberikan arah dan makna.
Pada akhirnya, AI tidak secara otomatis mengikis atau menyalakan rasa ingin tahu. Dampaknya bergantung pada cara teknologi dimaknai. Ruang kuliah menjadi tempat pembentukan sikap terhadap pengetahuan. Jika AI digunakan untuk memperluas eksplorasi, rasa ingin tahu akan tumbuh. Dari sinilah kualitas belajar mahasiswa di era digital ditentukan.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah