Asesmen Autentik untuk Pembelajaran Mendalam: Alternatif dari Tes Konvensional
Penulis: Neni Mariana
Asesmen dalam pembelajaran mendalam di SD harus
selaras dengan prinsip dan praktik pembelajaran itu sendiri. Tes pilihan ganda
atau isian singkat yang mengukur recall faktual tidak sesuai dengan
pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam. Asesmen autentik yang mengukur
pemahaman konseptual, thinking processes, dan aplikasi pengetahuan lebih tepat.
Pergeseran dari assessment of learning ke assessment for learning mengubah
asesmen dari alat sorting menjadi alat untuk mendorong pembelajaran.
Bentuk asesmen autentik pertama adalah performance
task atau tugas kinerja. Anak diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman mereka
melalui produk atau performance. Misalnya, untuk menilai pemahaman tentang
ekosistem, anak membuat diorama dan menjelaskan hubungan antar komponen. Untuk
matematika, anak menyelesaikan masalah kompleks dan menjelaskan strategi
reasoning mereka. Performance task menilai tidak hanya pengetahuan tetapi juga
aplikasi, kreativitas, dan communication skills.
Bentuk kedua adalah portfolio assessment yang
mendokumentasikan learning journey anak sepanjang waktu. Portfolio berisi
koleksi karya anak yang menunjukkan progress dan achievement. Yang penting
bukan hanya karya terbaik tetapi juga draft, revisi, dan refleksi tentang
proses. Anak terlibat aktif dalam memilih dan merefleksikan karya untuk
portfolio. Portfolio conference di mana anak mempresentasikan portfolio mereka
ke guru dan orang tua adalah powerful learning experience.
Bentuk ketiga adalah observation dan anecdotal records
yang dibuat guru selama pembelajaran berlangsung. Guru mengobservasi bagaimana
anak approach suatu task, berinteraksi dalam kelompok, dan mengatasi
challenges. Pencatatan anecdotal memberikan rich qualitative data tentang
learning processes. Rubrik observasi membantu guru fokus pada aspek-aspek
penting yang ingin dinilai. Observation-based assessment menangkap aspek
pembelajaran yang tidak bisa diukur dengan tes tertulis.
Bentuk keempat adalah self-assessment dan peer
assessment yang mengembangkan metacognition. Anak belajar untuk merefleksikan
learning mereka sendiri dan mengidentifikasi strengths dan areas to grow.
Mereka menggunakan rubrik atau success criteria untuk menilai karya sendiri dan
teman. Peer feedback mengajarkan anak untuk memberikan kritik konstruktif dan
menerima feedback. Proses assessment menjadi learning opportunity itu sendiri,
bukan hanya measurement event.
Bentuk kelima adalah conferencing atau conversation
one-on-one antara guru dan siswa. Guru mengajukan pertanyaan untuk probe
pemahaman anak tentang suatu konsep. Anak menjelaskan thinking mereka dan
teacher can identify misconceptions atau gaps. Conferencing juga kesempatan
untuk goal-setting dan planning next steps. Conversation ini memberikan
insights yang jauh lebih dalam dibanding paper-and-pencil test.
Implementasi asesmen autentik memerlukan perubahan
mindset dan sistem. Guru perlu melepaskan kebutuhan untuk quantify segalanya
dengan angka. Rubrik yang well-designed membantu membuat asesmen autentik lebih
objective dan reliable. Dokumentasi perlu lebih organized – foto, video, atau
digital portfolio. Time management adalah challenge karena asesmen autentik
lebih time-intensive. Namun, informasi yang didapat jauh lebih rich dan
actionable untuk meningkatkan pembelajaran.
Komunikasi dengan stakeholder tentang asesmen autentik
perlu dilakukan dengan hati-hati. Orang tua mungkin merasa unfamiliar dengan
bentuk asesmen ini. Sekolah perlu menjelaskan rationale dan benefit dari
asesmen autentik. Contoh konkret dan sharing hasil asesmen membantu stakeholder
memahami. Dengan waktu dan evidence, asesmen autentik akan diterima sebagai
cara yang lebih valid untuk mengukur pembelajaran mendalam.