Bagaimana Al-Qur’an Memandang Pembelajaran STEAM di Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Pembelajaran STEAM menekankan integrasi sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika. Pendekatan ini sangat relevan dengan ajaran Al-Qur’an yang mendorong manusia berpikir dan meneliti alam. Al-Qur’an berulang kali menekankan pentingnya observasi, eksplorasi, dan pemahaman sistem alam. Nilai-nilai inilah yang menjadi dasar filosofis pembelajaran STEAM. Dengan demikian, STEAM sejalan dengan semangat Qur’ani untuk belajar secara menyeluruh.
Ayat-ayat tentang penciptaan langit dan bumi mengajak manusia merenungkan keteraturan alam. Dalam perspektif pendidikan, ayat ini mendorong pendekatan eksperimental dan investigatif. Siswa diajak memahami fenomena melalui observasi langsung seperti para ilmuwan. Hal ini sejalan dengan metode STEAM yang berbasis eksplorasi dan pemecahan masalah. Pembelajaran menjadi proses aktif, bukan sekadar menerima informasi.
Konsep teknologi dalam Al-Qur’an juga dapat menjadi inspirasi. Misalnya, kisah Nabi Dawud yang diberi kemampuan mengolah besi menggambarkan hubungan antara keterampilan, ilmu, dan kreativitas. Ini menunjukkan bahwa inovasi dan rekayasa merupakan bagian dari nilai ketauhidan. Dalam konteks STEAM, siswa didorong untuk menciptakan karya yang bermanfaat. Etika spiritual menjadi pengarah agar inovasi tetap bermakna bagi kemaslahatan.
Aspek seni dalam STEAM pun selaras dengan konsep ihsan dalam Islam. Ihsan mengajarkan bahwa setiap karya harus dilakukan dengan keindahan dan kesempurnaan. Melalui integrasi seni, siswa dapat mengekspresikan kreativitas yang memiliki nilai estetika dan spiritual. Hal ini memperkaya proses pembelajaran dan memperluas dimensi ekspresi siswa. Kreativitas bukan hanya keterampilan, tetapi juga ibadah.
Dengan demikian, Al-Qur’an memberikan fondasi filosofis yang kuat bagi pembelajaran STEAM. Integrasi nilai spiritual dan literasi ilmiah membuat pembelajaran lebih utuh. Guru dapat menggunakan ayat-ayat tertentu untuk memperkuat makna kegiatan STEAM. Pendekatan ini tidak hanya melatih keterampilan abad 21, tetapi juga membentuk karakter mulia. STEAM Qur’ani menjadi contoh pendidikan masa depan yang holistik dan humanistik.
####
Penulis: Aida Meilina
Sumber: images.google.com