Bahasa Inggris SD Antara Gengsi dan Kebutuhan: Mengapa Literasi Kita Tertinggal?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Rendahnya skor Bahasa Inggris siswa Sekolah Dasar (SD) di Indonesia menjadi kontradiksi yang ironis di tengah arus globalisasi yang semakin kencang. Meskipun banyak orang tua berlomba-lomba memasukkan anak mereka ke tempat kursus mahal, namun secara kolektif, kualitas literasi bahasa internasional di sekolah dasar negeri maupun swasta masih sangat memprihatinkan. Kegagalan ini menunjukkan adanya celah besar antara kurikulum sekolah dengan tuntutan kompetensi global, yang menempatkan siswa kita pada posisi yang tidak menguntungkan sejak garis awal pendidikan mereka.
Akar masalahnya bermula dari ketidakjelasan status mata pelajaran Bahasa Inggris dalam kurikulum pendidikan dasar kita. Seringkali bahasa asing ini dianggap sebagai muatan lokal yang opsional, sehingga alokasi waktu dan sumber dayanya sangat terbatas. Padahal, secara neurologis, usia sekolah dasar adalah fase paling optimal bagi otak manusia untuk memperoleh bahasa kedua secara natural. Ketika kesempatan emas ini dilewatkan dengan metode pengajaran yang ala kadarnya, kita secara sengaja sedang menghambat potensi kognitif dan daya saing komunikasi anak-anak kita di masa depan.
Selain masalah jam pelajaran, kualitas materi ajar juga seringkali tidak relevan dengan kebutuhan literasi modern. Buku teks Bahasa Inggris SD seringkali terjebak pada pengulangan kosakata sederhana tanpa membangun kemampuan untuk memahami konteks bacaan atau mendengarkan secara aktif. Siswa mungkin tahu nama-nama buah atau hewan dalam bahasa Inggris, namun mereka gagal memahami sebuah paragraf pendek atau merespon percakapan sederhana. Kurikulum kita cenderung mengabaikan aspek literasi yang sebenarnya, yaitu kemampuan untuk menyerap dan mengolah informasi dari bahasa tersebut.
Kesenjangan akses terhadap guru bahasa Inggris yang berkualitas juga menciptakan ketidakadilan pendidikan yang nyata. Di sekolah-sekolah unggulan perkotaan, siswa mendapatkan fasilitas laboratorium bahasa yang canggih, sementara di daerah pinggiran, Bahasa Inggris mungkin diajarkan oleh guru yang bahkan tidak memiliki latar belakang bahasa Inggris sama sekali. Hal ini memperparah jurang kompetensi nasional, di mana hanya segelintir anak dari kelas ekonomi atas yang benar-benar siap menghadapi dunia internasional, sementara mayoritas lainnya tertatih-tatih dalam ketidakmampuan berbahasa.
Lingkungan sekolah yang tidak mendukung praktik berbahasa juga menjadi penghambat utama. Bahasa adalah kebiasaan, bukan sekadar teori di atas kertas ujian. Tanpa adanya budaya membaca buku berbahasa Inggris di perpustakaan sekolah atau program hari berbahasa, kemampuan siswa tidak akan pernah berkembang melampaui skor ujian rapor. Sekolah dasar seharusnya menjadi ekosistem yang merangsang siswa untuk berani mencoba bahasa baru sebagai alat untuk mengeksplorasi pengetahuan dunia yang lebih luas, bukan sekadar subjek untuk mengejar nilai angka.
Pemerintah harus berani mengambil kebijakan untuk mengembalikan Bahasa Inggris sebagai komponen inti literasi di SD dengan standar yang jelas dan terukur. Pelatihan guru bahasa Inggris untuk SD harus dilakukan secara masif dan berbasis praktik komunikasi, bukan hanya pedagogi umum. Jika kita tidak segera memperkuat fondasi bahasa internasional ini di tingkat dasar, maka generasi kita akan terus menjadi penonton di panggung global, karena gagap dalam berkomunikasi dan terbatas dalam mengakses gudang ilmu pengetahuan dunia yang mayoritas berbahasa Inggris.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah