Bahaya Laten "Learning Loss": Mengapa Kompetensi Matematika dan Inggris SD Kita Tertinggal?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Laporan pendidikan pasca-pandemi mengungkap kenyataan pahit mengenai terjadinya learning loss yang signifikan pada siswa Sekolah Dasar (SD), terutama pada mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris. Skor kompetensi dasar yang rendah ini menjadi alarm dini bahwa generasi masa depan kita sedang mengalami kemunduran dalam kemampuan berpikir abstrak dan komunikasi global. Jika masalah ini tidak segera diintervensi, rendahnya kualitas pembelajaran di SD akan menjadi beban sejarah yang menghambat produktivitas nasional dan memperlebar kesenjangan sosial di masa depan.
Matematika di tingkat SD adalah pintu gerbang menuju logika sains. Sayangnya, data lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa SD mengalami kesulitan besar bahkan dalam operasi hitung sederhana dan logika perbandingan. Kelemahan ini dipicu oleh metode pembelajaran jarak jauh yang kurang efektif di masa lalu, ditambah dengan kurangnya alat peraga matematika yang bisa digunakan siswa di rumah. Ketika fondasi angka ini lemah, siswa akan cenderung menghindari bidang-bidang sains dan teknologi di masa depan, yang mana bidang-bidang tersebut adalah motor penggerak ekonomi modern.
Dalam konteks Bahasa Inggris, lemahnya penguasaan di tingkat SD menyebabkan siswa kehilangan kepercayaan diri untuk berinteraksi dengan dunia luar. Pendidikan dasar kita sering kali melupakan bahwa bahasa adalah keterampilan yang harus dilatih, bukan sekadar teori yang diujikan. Tanpa adanya laboratorium bahasa atau setidaknya lingkungan literasi yang memadai di sekolah, kemampuan verbal anak-anak akan stagnan. Rendahnya skor bahasa internasional ini adalah kerugian besar, karena di masa depan, kemampuan bahasa Inggris akan menjadi pembeda utama dalam memperebutkan peluang di pasar kerja global.
Kualitas buku teks SD juga sering kali dikritik karena terlalu kaku dan tidak kontekstual. Banyak soal matematika yang disajikan tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari anak, sehingga mereka tidak melihat nilai guna dari apa yang mereka pelajari. Begitu pula dengan materi Bahasa Inggris yang terkadang terlalu teknis pada tata bahasa (grammar) namun mengabaikan aspek kesenangan dalam berbahasa. Hal ini menyebabkan motivasi intrinsik siswa untuk belajar menjadi rendah, yang pada akhirnya berujung pada nilai ujian yang sekadar "asal lulus".
Selain itu, distribusi guru yang memiliki kompetensi khusus di bidang numerasi dan literasi masih sangat tidak merata. Di daerah-daerah pinggiran, seorang guru SD harus mengajar semua mata pelajaran dengan sumber daya yang sangat terbatas. Kurangnya bimbingan teknis yang berkualitas bagi guru membuat metode pengajaran tetap terjebak pada pola-pola konvensional. Padahal, penguatan kompetensi guru SD adalah kunci utama untuk memperbaiki hasil belajar siswa secara masif dan berkelanjutan.
Pemerintah dan masyarakat harus memandang rendahnya nilai SD ini sebagai kondisi darurat pendidikan. Diperlukan program percepatan atau matrikulasi khusus untuk menambal ketertinggalan literasi dan numerasi siswa yang terdampak learning loss. Penggunaan teknologi pendidikan yang tepat sasaran bisa menjadi solusi untuk memberikan akses pembelajaran matematika dan bahasa Inggris yang berkualitas hingga ke pelosok. Masa depan bangsa dipertaruhkan di meja-meja sekolah dasar; jika fondasinya rapuh, maka seluruh bangunan peradaban kita dalam bahaya besar.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah