Beban Administrasi Guru: Penghambat Tersembunyi di Balik Buruknya Skor TKA 2025
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di balik kegagalan siswa SD mencapai skor ideal dalam TKA 2025 dan PISA, tersimpan masalah klasik yang kian meruncing: beban administrasi guru yang menyita waktu fokus pengajaran di kelas secara masif. Laporan riset pendidikan awal 2026 mengungkapkan bahwa guru-guru sekolah dasar menghabiskan lebih dari 40% waktu kerja mereka untuk urusan birokrasi digital dan pelaporan aplikasi, meninggalkan sedikit ruang untuk pengembangan strategi pedagogi yang efektif. Fenomena ini menjadi penyebab utama mengapa temuan PISA tentang rendahnya mutu pendidikan Indonesia terus berulang dan kini terkonfirmasi kembali melalui hasil TKA nasional.
Fakta lapangan menunjukkan bahwa guru SD yang seharusnya menjadi ujung tombak penjagaan mutu literasi justru terjebak dalam pengisian berbagai platform pelaporan yang sangat rumit dan repetitif. Akibatnya, kualitas bimbingan individual bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar menjadi sangat minim, tercermin dalam skor TKA 2025 yang merosot pada soal-soal analisis mendalam. Analisis mendalam menunjukkan bahwa tanpa reformasi birokrasi di tingkat sekolah, intervensi pendidikan apa pun tidak akan berdampak pada hasil belajar siswa karena energi guru telah habis sebelum mereka sempat mengajar dengan prima.
Guru-guru di sekolah dasar kini lebih sering merasa sebagai "petugas entri data" daripada sebagai pendidik profesional yang mengasah logika anak bangsa. Tekanan untuk memenuhi kuota aktivitas di aplikasi kinerja membuat banyak guru melakukan aktivitas pembelajaran yang hanya bertujuan untuk memenuhi syarat unggah foto, bukan untuk kualitas kognitif siswa. Dampaknya terekam jelas dalam TKA 2025, di mana siswa tampak kehilangan kemampuan berpikir mandiri karena gurunya kurang memberikan tantangan intelektual yang substansial. Ini adalah krisis profesi yang berdampak langsung pada hancurnya standar mutu pendidikan dasar kita.
Mahasiswa pascasarjana pendidikan menilai bahwa beban administrasi ini menciptakan budaya "asal bapak senang" di lingkungan sekolah, di mana laporan terlihat sempurna namun hasil belajar siswa di lapangan sangat memprihatinkan. Kesenjangan antara keindahan laporan administratif dengan kenyataan skor PISA dan TKA adalah bukti adanya disfungsi dalam sistem manajemen pendidikan. Penjagaan mutu seharusnya dilakukan dengan mengamati proses interaksi di kelas, bukan dengan menghitung jumlah dokumen yang diunggah ke server kementerian. Krisis ini adalah alarm serius yang menuntut penyederhanaan birokrasi pendidikan secara radikal.
Selain itu, banyaknya tuntutan untuk mengikuti pelatihan daring yang bersifat wajib membuat waktu persiapan mengajar guru semakin berkurang drastis. Guru tidak lagi memiliki waktu untuk membaca literatur terbaru atau merancang media pembelajaran yang inovatif secara mandiri. Hasil TKA 2025 mencatat bahwa kualitas pengajaran di kelas cenderung monoton dan tidak inspiratif, yang berdampak pada rendahnya motivasi belajar siswa. Mutu pendidikan dasar akan kembali meningkat hanya jika guru diberikan kembali haknya untuk fokus pada tugas utama mereka: mendidik dan mengajar dengan hati.
Ditinjau dari perspektif manajemen, kementerian harus menyadari bahwa otomatisasi laporan seharusnya mempermudah guru, bukan justru menambah beban kerja baru dengan antarmuka yang membingungkan. Perbaikan skor PISA membutuhkan guru yang segar secara mental dan kreatif secara intelektual untuk membimbing siswa menghadapi tantangan soal global. Jika energi guru terus dikuras oleh urusan kertas dan aplikasi, maka hasil ujian standar apa pun akan tetap menunjukkan potret yang kelam. Penyelamatan masa depan kognitif siswa SD dimulai dari pengurangan beban administratif para pahlawan tanpa tanda jasa ini.
Menyelesaikan masalah TKA dan PISA harus dimulai dengan memerdekakan guru dari belenggu birokrasi yang tidak relevan dengan kualitas belajar siswa. Mutu pendidikan dasar akan kembali meningkat hanya jika kebijakan pendidikan benar-benar menempatkan kelas sebagai prioritas tertinggi, bukan server laporan. Krisis ini adalah alarm serius bagi pemerintah untuk segera memprioritaskan "kembali ke kelas" bagi para guru demi menyelamatkan masa depan siswa SD kita dari keterpurukan intelektual yang lebih dalam.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah