Belajar Bahasa di Era Digital: Translate dan Peran Guru dalam Membimbing Literasi Global
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Fitur translate pada perangkat digital kini menjadi alat yang hampir selalu digunakan siswa dalam memahami kata baru. Pada Hari Guru, penting untuk merefleksikan bagaimana kebiasaan ini memengaruhi perkembangan literasi linguistik di sekolah dasar. Alat terjemahan memang membantu, tetapi tidak selalu memberikan pemahaman mendalam tentang makna kata. Guru memegang peran sebagai penyeimbang antara kemudahan teknologi dan pengembangan kemampuan berbahasa yang autentik. Pemanfaatan yang tepat dapat mendukung literasi multibahasa.
Translate dapat mendukung siswa mengenal dunia kosakata lain dengan cepat dan praktis. Anak dapat melihat kata dalam dua bahasa dan mendapatkan gambaran awal mengenai makna dasar. Namun, pemahaman kontekstual tidak dapat sepenuhnya diperoleh hanya melalui terjemahan digital. Guru perlu mengajak siswa berdiskusi tentang kapan kata tersebut digunakan dan bagaimana maknanya berubah sesuai konteks. Pendekatan ini membantu memperdalam kesadaran berbahasa.
Dari sudut pandang pedagogis, penggunaan alat translate dapat menjadi kesempatan untuk mengembangkan critical digital literacy. Siswa diajarkan bahwa teknologi tidak selalu tepat dan perlu diperiksa ulang. Guru dapat memberikan latihan membandingkan hasil terjemahan digital dengan penjelasan guru atau kamus konvensional. Aktivitas seperti ini meningkatkan keterampilan berpikir kritis sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu. Dengan demikian, alat digital menjadi ruang belajar, bukan ruang pasif.
Translate juga membuka kesempatan bagi guru untuk mengenalkan keragaman budaya melalui contoh-contoh penggunaan bahasa. Kata yang sama dapat berbeda makna pada budaya berbeda, dan pembahasan seperti ini memperkaya wawasan siswa. Momentum Hari Guru menegaskan pentingnya peran pendidik sebagai mediator budaya dan bahasa. Literasi global menjadi semakin relevan di era digital. Anak belajar bahwa bahasa adalah jendela dunia.
Pada akhirnya, translate bukan hanya alat teknologi, tetapi juga pintu menuju pembelajaran bahasa yang lebih luas. Guru menjadi figur kunci yang memastikan proses belajar tetap bermakna dan tidak terjebak pada pemahaman dangkal. Hari Guru memberi kesempatan untuk mengapresiasi cara guru mendampingi anak dalam menavigasi ruang bahasa digital. Integrasi teknologi dan pendekatan humanis membuat pembelajaran bahasa lebih hidup dan kontekstual. Guru tetap memegang peran sentral dalam membentuk literasi global anak.
###
Penulis: Arumita Wulan Sari