Bercerita dengan Gambar: Instagram Menguatkan Literasi Visual Siswa SD
Setiap hari, anak-anak
dikelilingi gambar: poster di sekolah, ikon aplikasi, hingga emoji dalam pesan.
Mereka belajar membaca simbol jauh sebelum membaca paragraf panjang. Di sinilah
Instagram menemukan relevansinya dalam pembelajaran dasar—bukan sebagai media
pamer gaya hidup, tetapi sebagai kanvas bercerita yang melatih
kemampuan memahami dan menghasilkan pesan visual.
Bayangkan sebuah tugas kelas 3
tentang lingkungan hidup. Guru meminta siswa memotret objek yang menunjukkan
perilaku menjaga kebersihan: membuang sampah pada tempatnya, memilah plastik
dan kertas, atau menanam tanaman kecil di rumah. Siswa memilih foto yang
menurut mereka paling mewakili pesan, lalu menulis caption singkat
yang menjelaskan ide mereka. Tiba-tiba, menulis bukan lagi tugas yang
menakutkan. Teks dan gambar bekerja sama membantu mereka menyampaikan makna.
Literasi visual adalah bagian
penting dari kompetensi abad 21. Anak tidak hanya perlu bisa membaca buku,
tetapi juga membaca dunia—terutama ketika dunia itu disajikan dalam
bentuk gambar dan video yang bergulir cepat di layar gadget. Dengan Instagram,
siswa dilatih untuk memperhatikan detail, memilih komposisi, dan memahami unsur
estetika. Proses ini memperkuat kemampuan berpikir kritis: mengapa foto ini
cocok? Pesan apa yang ingin kusampaikan? Apakah orang lain akan memahami
maksudku?
Namun Instagram tentu memiliki
risiko yang jelas. Tekanan sosial demi “likes”, budaya perbandingan, hingga
akses terhadap konten tidak ramah anak adalah hal-hal yang tidak boleh dianggap
sepele. Pembelajaran di SD harus selalu memprioritaskan keamanan dan
kesehatan mental siswa. Maka, akun kelas tertutup yang dikelola guru
menjadi pilihan yang paling bijak. Identitas siswa dapat dilindungi dengan
tidak menampilkan wajah atau nama lengkap—cukup karya, benda, atau sudut
pandang mereka tentang sebuah isu.
Melalui Instagram, anak belajar
bahwa berkomunikasi tidak selalu melalui karangan panjang. Satu foto dan satu
kalimat bisa menyuarakan kepedulian, ide besar, atau rasa syukur yang
sederhana. Mereka bukan sekadar pengguna teknologi; mereka menjadi pencipta
pesan yang percaya diri. Dan ketika gambar kecil dalam satu layar
dapat menumbuhkan keberanian berekspresi, saat itu pula kita melihat literasi
berkembang secara utuh—visual, bahasa, dan rasa ingin tahu berjalan beriringan.
Penulis: Windha Ana Sevia