Bias Algoritma dan Ancaman Terhadap Pemikiran Kritis Mahasiswa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Penggunaan AI generatif di kalangan mahasiswa menimbulkan kekhawatiran baru mengenai terkikisnya kemampuan berpikir kritis akibat paparan bias algoritma yang seringkali tidak disadari oleh para pembelajar. AI generatif bekerja berdasarkan data yang ada di internet, yang secara inheren membawa bias perspektif, ideologi, dan nilai-nilai tertentu yang mungkin tidak relevan atau bahkan bertentangan dengan konteks lokal Indonesia. Tantangan bagi dosen saat ini adalah memastikan mahasiswa tidak menelan mentah-mentah output dari AI, melainkan mampu membedah dan mengkritisi setiap informasi yang dihasilkan guna menjamin kualitas pendidikan yang objektif dan berbasis fakta.
Fenomena ini sering terlihat dalam tugas-tugas mahasiswa yang menggunakan AI untuk mencari solusi atas masalah sosial atau kebijakan publik. AI cenderung memberikan jawaban yang bersifat umum atau condong pada perspektif Barat, sehingga mahasiswa yang kurang kritis akan kehilangan kepekaan terhadap kompleksitas masalah di lapangan. Masalahnya, banyak mahasiswa menganggap AI sebagai otoritas kebenaran mutlak karena gaya bahasanya yang formal dan meyakinkan. Jika hal ini dibiarkan, dunia kampus berisiko melahirkan sarjana yang hanya mampu membeo pada algoritma tanpa memiliki ketajaman analisis terhadap realitas sosiokultural di sekitarnya.
Dosen kini dituntut untuk memasukkan materi mengenai literasi algoritma ke dalam setiap mata kuliah, terlepas dari disiplin ilmunya. Mahasiswa perlu diajarkan bagaimana mesin belajar, dari mana data diambil, dan mengapa jawaban AI bisa bersifat diskriminatif atau tidak akurat. Pendidikan berkualitas di masa kini berarti memberikan "perisai intelektual" kepada mahasiswa agar mereka tidak menjadi korban manipulasi informasi digital. Tugas-tugas kuliah pun harus dirancang untuk memancing mahasiswa mencari celah kesalahan atau bias dalam jawaban AI, bukan sekadar menggunakan AI untuk meringkas materi yang sudah ada.
Tantangan bagi pengajar adalah bagaimana tetap menjaga standar objektivitas di tengah banjir informasi yang disaring oleh kecerdasan buatan. Dosen harus terus mendorong penggunaan sumber-sumber primer yang kredibel, seperti jurnal bereputasi, buku teks asli, dan data lapangan yang sahih. Mahasiswa harus diingatkan bahwa AI hanyalah pengolah data sekunder yang tidak bisa menggantikan proses observasi langsung dan refleksi pribadi yang mendalam. Dengan menekankan pada validitas sumber, dosen sedang melatih mahasiswa untuk memiliki standar kualitas yang tinggi dalam memproduksi ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Selain bias perspektif, AI generatif juga sering mematikan daya imajinasi dan kreativitas mahasiswa dalam menemukan solusi inovatif yang di luar kebiasaan (out of the box). Karena AI bekerja berdasarkan probabilitas data masa lalu, ia jarang menghasilkan pemikiran yang benar-benar baru dan revolusioner. Mahasiswa yang terlalu bergantung pada AI akan terjebak dalam pola pikir medioker yang seragam. Dosen memiliki tugas berat untuk memicu kembali semangat eksperimentasi dan keberanian mahasiswa untuk berbeda pendapat dengan narasi arus utama yang dihasilkan oleh mesin, demi menjaga kualitas intelektual yang dinamis.
Peran dosen sebagai evaluator juga semakin kompleks karena mereka harus mampu membedakan antara opini orisinal mahasiswa dengan opini yang disarikan oleh AI. Hal ini memerlukan ketelitian ekstra dalam membaca setiap paragraf tugas mahasiswa untuk menemukan konsistensi argumen dan suara unik sang penulis. Tantangan ini menjadi hambatan nyata bagi dosen yang memiliki jumlah mahasiswa sangat banyak dalam satu kelas, sehingga seringkali penilaian dilakukan secara cepat dan kurang mendalam. Diperlukan reformasi pada sistem manajemen perkuliahan yang lebih memungkinkan terjadinya interaksi satu-lawan-satu antara dosen dan mahasiswa.
Sebagai penutup, ancaman bias algoritma terhadap pemikiran kritis mahasiswa adalah alarm bagi dunia pendidikan untuk kembali memperkuat fondasi logika dan dialektika di kampus. Dosen harus menjadi fasilitator yang menantang setiap klaim yang dihasilkan oleh teknologi, demi melahirkan generasi yang skeptis dalam arti positif. Kualitas pendidikan tinggi kita dipertaruhkan jika kita membiarkan algoritma mendikte apa yang harus dipikirkan oleh mahasiswa. Mari kita jadikan kampus sebagai medan laga gagasan yang merdeka, di mana nalar kritis manusia tetap berdiri lebih tinggi daripada sekadar keluaran mesin yang tak bernyawa.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah