Bridging Knowledge through Translation: Transformasi Literasi Global dalam Pendidikan Dasar untuk Mewujudkan SDGs
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Dalam konteks pendidikan dasar, teknologi translate tidak lagi sekadar alat bantu kebahasaan, tetapi telah berkembang menjadi medium strategis untuk menjembatani kesenjangan informasi lintas budaya. Melalui akses pada sumber pengetahuan global, siswa dapat diperkenalkan pada isu-isu dunia seperti perubahan iklim, perdamaian, kesehatan, dan kesetaraan, yang selaras dengan SDGs. Namun, pemanfaatannya tidak boleh dilakukan secara langsung tanpa pembingkaian pedagogis yang tepat, agar siswa tidak hanya menyalin hasil terjemahan tetapi juga memahami makna konseptual dari isi bacaan. Guru harus membekali siswa dengan keterampilan literasi digital dan kemampuan refleksi agar penggunaan translate menjadi proses belajar aktif, bukan pasif. Pada tahap ini, translate dapat dibentuk sebagai jembatan menuju pembelajaran berbasis proyek global (global project learning) yang menumbuhkan kesadaran keberlanjutan sejak dini. Jika diterapkan secara tepat, teknologi translate mampu menjadi katalisator pendidikan dasar yang lebih adaptif dan berorientasi masa depan.
Namun demikian, di balik potensi inovatifnya, penggunaan translate secara tidak terkontrol dapat menimbulkan risiko terhadap perkembangan linguistik dan kognitif siswa usia sekolah dasar. Proses penerjemahan instan berpotensi melemahkan kemampuan memahami struktur bahasa dan konteks budaya jika tidak dilengkapi dengan diskusi makna. Guru perlu mengintegrasikan strategi pembelajaran yang melibatkan analisis hasil terjemahan, perbandingan makna antar bahasa, dan koreksi mandiri agar siswa tetap membangun keterampilan literasi dasar. Selain itu, penggunaan translate harus disesuaikan dengan karakteristik perkembangan operasional konkret pada anak, seperti dengan contoh visual dan narasi sederhana. Pendekatan ini memastikan teknologi tidak menggantikan proses berpikir, tetapi memperkuatnya melalui keterlibatan aktif siswa. Dengan demikian, translate hanya menjadi alat, bukan pengganti refleksi intelektual anak.
Dalam kerangka pencapaian SDGs, teknologi translate dapat dimanfaatkan untuk memperluas perspektif siswa mengenai realitas global melalui kegiatan belajar berbasis kontekstual dan kolaboratif. Misalnya, siswa dapat menerjemahkan cerita tentang keberlanjutan lingkungan kemudian merefleksikan bagaimana tindakan sederhana seperti hemat air atau tidak membuang sampah sembarangan dapat dilakukan di sekolah. Guru juga dapat mengarahkan siswa untuk membandingkan kondisi sosial antara negara lain dan Indonesia sebagai dasar pemahaman kesetaraan, toleransi, dan empati. Dengan menyelaraskan aktivitas terjemahan dengan proyek SDGs, pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menginternalisasi nilai sosial dan ekologis secara bermakna. Keterlibatan siswa dalam praktik ini membentuk pola pikir “global responsibility with local action”. Hal inilah yang menjadi fondasi kuat bagi tercapainya SDGs mulai dari pendidikan dasar.
Selain itu, keberhasilan penerapan translate dalam pendidikan dasar membutuhkan dukungan sistemik dari sekolah, keluarga, dan teknologi pendidikan. Guru perlu diberikan pelatihan agar mampu menilai hasil terjemahan dan menyusun strategi pembelajaran berbasis teknologi bahasa yang tetap mengutamakan kualitas berpikir. Orang tua juga memiliki peran dalam mengawasi penggunaan teknologi di rumah agar tetap sesuai dengan tujuan pendidikan. Sekolah dapat bekerja sama dengan platform edukasi digital untuk menyediakan fitur translate yang adaptif terhadap usia siswa. Dalam skenario ideal, teknologi tidak hanya menyediakan jawaban, tetapi juga mengajak siswa bertanya dan berpikir. Ketika ekosistem pendukung telah terbentuk, translate dapat menjadi bagian dari literasi global yang menyatu dengan pembelajaran karakter.
Pada akhirnya, pemanfaatan translate dalam pendidikan dasar hanya akan bernilai jika diarahkan sebagai wahana pembentukan generasi literat global, bukan sekadar sebagai alat bantu pemahaman bahasa. Melalui desain pembelajaran yang tepat, teknologi ini dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, empati sosial, dan kesadaran keberlanjutan yang merupakan fondasi SDGs. Guru harus bertindak sebagai kurator pengetahuan, bukan hanya fasilitator teknologi, agar siswa tetap membangun makna secara aktif. Apabila dikelola dengan benar, translate mampu memecah batas bahasa sekaligus memperkuat identitas lokal dalam bingkai global. Inilah saatnya pendidikan dasar tidak hanya “belajar dari dunia”, tetapi juga “berkontribusi untuk dunia”. Transformasi ini dimulai dari satu langkah: menerjemahkan bukan hanya kata, tetapi juga masa depan.
###
Penulis: Putri Arina Hidayati
Dokumentasi: Google_Words Lead