Budaya Akademik di Era AI Generatif dan Beban Baru yang Dipikul Dosen
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Meningkatnya penggunaan AI generatif di kalangan mahasiswa tidak hanya membawa perubahan teknis dalam proses belajar, tetapi juga menggeser budaya akademik secara perlahan. Teknologi ini masuk ke ruang ruang diskusi, penulisan, dan pemecahan masalah tanpa banyak seremoni. Mahasiswa memandang AI sebagai bagian wajar dari strategi akademik modern. Namun perubahan ini tidak selalu diiringi refleksi mendalam tentang implikasinya. Budaya akademik yang sebelumnya menekankan proses, dialog, dan pergulatan intelektual mulai berhadapan dengan logika kecepatan dan efisiensi. Dosen berada di tengah pusaran perubahan tersebut. Mereka dituntut menjaga kualitas pendidikan sambil beradaptasi dengan kebiasaan belajar baru mahasiswa. Tantangan ini bersifat kultural sekaligus pedagogis. Menjamin pendidikan berkualitas kini tidak hanya soal metode, tetapi juga soal nilai yang hidup dalam praktik akademik sehari hari.
Budaya akademik dibangun melalui kebiasaan yang berulang dan disepakati secara tidak tertulis. Cara mahasiswa membaca, berdiskusi, dan menulis mencerminkan nilai yang dianut bersama. AI generatif memperkenalkan kebiasaan baru yang mengubah ritme tersebut. Proses membaca panjang dapat digantikan oleh ringkasan instan. Diskusi konseptual dapat dipersingkat dengan jawaban cepat dari sistem. Perubahan ini tidak selalu negatif, tetapi membawa konsekuensi terhadap kedalaman interaksi akademik. Dosen mulai merasakan pergeseran cara mahasiswa berargumentasi. Argumen sering terdengar rapi tetapi kurang berakar pada pemahaman personal. Tantangan bagi dosen adalah menjaga agar budaya akademik tidak tereduksi menjadi sekadar produksi teks.
Beban dosen dalam situasi ini semakin kompleks. Selain tugas mengajar dan menilai, dosen kini harus menjadi penjaga nilai akademik di tengah perubahan teknologi. Mereka dituntut memahami cara kerja AI generatif sekaligus implikasinya. Tidak semua dosen memiliki kesiapan yang sama dalam menghadapi perubahan ini. Ketimpangan literasi teknologi dapat memengaruhi kualitas pembelajaran. Dosen yang kurang memahami AI berisiko mengambil sikap ekstrem, baik terlalu melarang maupun terlalu membiarkan. Kedua sikap tersebut dapat merugikan kualitas pendidikan. Tantangan ini menuntut dukungan sistemik dan ruang pembelajaran bagi dosen sendiri.
Budaya akademik juga berkaitan erat dengan etos kerja mahasiswa. Penggunaan AI generatif dapat memengaruhi cara mahasiswa memandang usaha dan pencapaian. Ketika hasil dapat diperoleh dengan cepat, nilai usaha intelektual berpotensi menurun. Mahasiswa mungkin tidak lagi melihat pentingnya proses panjang dalam membangun argumen. Dosen sering kali menghadapi karya yang tampak matang, tetapi kurang menunjukkan jejak proses berpikir. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang makna prestasi akademik. Apakah prestasi diukur dari kualitas produk atau dari kedalaman proses. Menjaga keseimbangan antara keduanya menjadi tantangan utama dalam menjamin pendidikan berkualitas.
Aspek etika menjadi elemen penting dalam pembentukan budaya akademik di era AI. Tanpa panduan yang jelas, mahasiswa dapat mengembangkan praktik yang abu abu. Penggunaan AI generatif dapat dianggap wajar tanpa mempertimbangkan batas etisnya. Dosen memiliki peran penting dalam membangun kesadaran etika ini. Pembelajaran perlu mengajak mahasiswa merefleksikan dampak penggunaan teknologi terhadap integritas akademik. Tantangan muncul ketika norma etika belum sepenuhnya terinternalisasi. Budaya akademik tidak dapat dibangun hanya melalui aturan formal. Ia tumbuh melalui teladan dan dialog yang konsisten.
Menjamin pendidikan berkualitas juga menuntut pembaruan dalam desain pembelajaran. Budaya akademik yang sehat mendorong keterlibatan aktif dan refleksi kritis. Dosen perlu merancang aktivitas yang sulit digantikan oleh AI generatif. Diskusi berbasis pengalaman, analisis kontekstual, dan refleksi personal menjadi semakin penting. Dengan pendekatan ini, AI dapat ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pusat pembelajaran. Tantangan bagi dosen adalah menemukan keseimbangan antara inovasi dan nilai. Pembaruan budaya akademik membutuhkan waktu dan kesabaran.
Pada akhirnya, penggunaan AI generatif di kalangan mahasiswa menandai fase baru dalam perkembangan budaya akademik. Perubahan ini tidak dapat dihindari, tetapi dapat diarahkan. Dosen memegang peran strategis dalam menentukan arah tersebut. Menjamin pendidikan berkualitas berarti menjaga agar nilai nilai akademik tetap hidup di tengah arus teknologi. AI generatif dapat memperkaya pembelajaran jika diintegrasikan secara reflektif. Tantangan terbesar adalah memastikan bahwa budaya akademik tetap menempatkan proses berpikir sebagai inti. Dengan kesadaran kolektif dan dialog berkelanjutan, pendidikan tinggi dapat bertransformasi tanpa kehilangan jati dirinya.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah