Canva dan Terhambatnya Kecerdasan Musikal: Aktivitas Seni yang Bergeser dari Suara ke Visual
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kecerdasan musikal berkembang melalui pengalaman mendengar, menghasilkan, dan memahami pola suara. Pada masa sekolah dasar, stimulasi musikal sangat penting karena berpengaruh pada ritme, memori, dan koordinasi. Namun, di banyak sekolah, kegiatan kreatif mulai bergeser dari seni suara ke seni visual karena penggunaan aplikasi seperti Canva. Anak lebih sering membuat poster ketimbang mengeksplorasi lagu atau instrumen. Pergeseran ini membuat pengalaman musikal mereka semakin terbatas.
Ketika kegiatan proyek lebih banyak fokus pada desain visual, anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan auditory sensitivity, yaitu kepekaan terhadap suara, nada, dan ritme. Canva memang memudahkan anak membuat karya yang menarik secara visual, tetapi tidak menstimulasi keterampilan musik. Jika pengalaman mendengarkan dan mencipta suara tidak difasilitasi, kecerdasan musikal tidak berkembang optimal. Anak pun menjadi kurang peka terhadap pola nada yang seharusnya mulai mereka kenali sejak dini.
Guru sering melihat bahwa kemampuan anak mengikuti ritme atau menyanyikan nada dasar menurun ketika aktivitas seni lebih banyak bersifat visual. Fenomena ini berkaitan dengan creative imbalance, kondisi ketika satu jenis kreativitas berkembang sedangkan yang lain terabaikan. Padahal, kurikulum sekolah dasar menekankan keberagaman pengalaman seni untuk mengembangkan spektrum kecerdasan majemuk. Ketika seni suara kurang diakomodasi, kemampuan musikal menjadi tidak terlatih. Dampaknya dapat terasa hingga jenjang berikutnya.
Untuk mengatasi ketimpangan ini, Canva tetap dapat digunakan tetapi dikombinasikan dengan aktivitas musikal. Misalnya, anak diminta membuat poster lagu yang mereka ciptakan sendiri. Guru juga dapat menggunakan Canva untuk membuat kartu ritme atau visualisasi nada yang kemudian dipraktikkan dalam bentuk musik. Pendekatan ini menghubungkan visual dengan suara, sehingga kedua kecerdasan berkembang seimbang. Anak tetap memanfaatkan teknologi, tetapi tidak kehilangan pengalaman musikalnya.
Dengan strategi yang tepat, Canva tidak harus menjadi penghambat kecerdasan musikal. Sebaliknya, ia dapat menjadi alat pendukung penyajian konsep musik secara menarik. Guru hanya perlu memastikan bahwa pengalaman suara tetap menjadi bagian inti pembelajaran seni. Dengan demikian, kecerdasan musikal anak tetap berkembang kaya dan variatif. Teknologi hadir sebagai pelengkap, bukan pengganti.
###
Penulis: Arumita Wulan Sari