Cara Bijak Mengajarkan Etika Chatting dan Sticker WA kepada Siswa SD
Sejak
dini, siswa Sekolah Dasar (SD) semakin akrab dengan dunia chatting
melalui platform seperti WhatsApp (WA), baik di grup kelas maupun komunikasi
personal dengan teman-teman. Di satu sisi, kemampuan chatting adalah
keterampilan komunikasi digital yang penting; di sisi lain, penggunaan yang
tidak bijak, termasuk penggunaan sticker atau emoji yang tidak
pantas, dapat menimbulkan kesalahpahaman atau bahkan perundungan siber (cyberbullying).
Oleh karena itu, tugas guru dan orang tua adalah tidak hanya mengajarkan cara
mengetik, tetapi juga menanamkan Etika Chatting (netiquette)
dan pemahaman akan konteks penggunaan sticker secara bertanggung jawab.
Kita harus memastikan bahwa siswa memahami batas antara komunikasi formal dan
informal di ruang digital.
Ajarkan
Konsep Audience dan Konteks Pesan
Langkah
pertama dalam mengajarkan etika chatting adalah mengenalkan konsep audience
(siapa yang membaca) dan konteks pesan. Jelaskan kepada siswa SD bahwa cara
mereka berbicara kepada guru, orang tua, dan teman sebaya harus berbeda, dan
perbedaan ini juga berlaku di WA. Tekankan bahwa pesan yang dikirim di grup
kelas (yang dibaca oleh banyak orang) harus lebih formal, sopan, dan langsung
ke intinya dibandingkan chat pribadi dengan teman. Ajarkan mereka untuk
selalu menyertakan salam pembuka, menggunakan bahasa yang lengkap (tidak hanya
singkatan), dan mengucapkan terima kasih. Pemahaman ini membantu siswa
menempatkan diri dan memilih kata yang tepat sesuai dengan situasi komunikasi.
Batasan
Penggunaan Sticker dan Emoji
Sticker dan emoji
adalah elemen yang menyenangkan, tetapi seringkali menjadi sumber
kesalahpahaman di kalangan anak-anak. Beri batasan yang jelas mengenai
penggunaan sticker di grup kelas: sticker lucu atau berlebihan
harus dihindari, terutama saat guru sedang menyampaikan informasi penting.
Ajarkan bahwa emoji dapat digunakan untuk menyampaikan emosi secara
cepat (misalnya 👍 untuk
setuju atau 😊 untuk
berterima kasih), tetapi tidak boleh menggantikan seluruh kalimat. Peringatkan
mereka bahwa sticker yang mengandung unsur mengejek, menghina, atau
terlalu agresif dapat menyakiti perasaan orang lain, bahkan jika niat mereka
hanya bercanda. Guru harus tegas mencontohkan dan melarang sticker yang
tidak pantas untuk menjaga suasana grup tetap hormat.
Aturan
"Tunggu dan Pikirkan Sebelum Kirim"
Sifat
instan dari chatting sering mendorong siswa SD untuk merespons emosi
atau menulis pesan tanpa berpikir panjang, yang dapat berujung pada penyesalan.
Perkenalkan aturan "Tunggu dan Pikirkan Sebelum Kirim" (Think
Before You Click). Minta siswa untuk membaca ulang pesan mereka (termasuk sticker
yang mereka pilih) dan membayangkan bagaimana perasaan orang lain saat
membacanya. Jelaskan pentingnya tidak mengirim chat di malam hari atau
larut malam, menghormati waktu istirahat orang lain. Mengajarkan jeda sebentar
sebelum menekan tombol kirim adalah latihan pengendalian diri dan empati yang
sangat berharga dalam komunikasi digital.
Etika
chatting bukanlah serangkaian aturan kaku, melainkan perpanjangan dari
sopan santun yang sudah diajarkan di kehidupan nyata ke dunia digital. Dengan
mengajarkan siswa SD konsep audience, batasan penggunaan sticker
dan emoji, serta pentingnya menunda respons emosional, kita membekali
mereka dengan keterampilan netiquette yang kritis. Guru dan orang tua
harus konsisten dalam memberikan contoh yang baik dan mengoreksi dengan lembut
jika terjadi pelanggaran. Dengan demikian, siswa SD dapat memanfaatkan kekuatan
WA untuk berkomunikasi secara efektif, positif, dan terhindar dari perilaku online
yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Penulis:
Della Octavia C. L