ChatGPT dan Kemunduran Kecerdasan Interpersonal: Ketika Interaksi Manusia Mulai Berkurang
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dalam kerangka kecerdasan majemuk, kecerdasan interpersonal berperan penting dalam kemampuan anak memahami perasaan, motivasi, dan perspektif orang lain. Kecerdasan ini berkembang melalui interaksi sosial langsung, baik di kelas maupun lingkungan sekitar. Namun, munculnya teknologi berbasis kecerdasan buatan seperti ChatGPT mulai mengubah pola interaksi anak. Mereka semakin terbiasa mendapatkan respons dari mesin yang cepat dan tidak menuntut empati timbal balik. Kondisi ini secara tidak langsung menggeser pengalaman sosial yang seharusnya dihadapi anak secara nyata.
Penggunaan ChatGPT sebagai tempat bertanya atau berlatih menulis membuat anak lebih sering berkomunikasi dengan sistem otomatis dibanding teman sebaya. Hal ini mengurangi social negotiation, yaitu proses penting untuk berlatih menyampaikan pendapat dan mendengarkan respons orang lain. Ketika mesin menggantikan dialog manusia, anak tidak lagi menghadapi dinamika percakapan yang kompleks seperti perbedaan pendapat, intonasi, atau bahasa tubuh. Akibatnya, fleksibilitas sosial mereka dapat menurun. Anak menjadi tidak terbiasa mengelola konflik kecil atau memahami ekspresi emosional nyata.
Di kelas, guru mulai melihat tanda-tanda anak yang lebih nyaman mengetik pertanyaan ke chatbot daripada bertanya langsung kepada guru atau teman. Fenomena ini disebut communication displacement, yaitu pergeseran preferensi komunikasi dari manusia ke sistem digital. Anak yang jarang berlatih komunikasi interpersonal berisiko mengalami penurunan rasa percaya diri dalam situasi sosial. Selain itu, keterampilan kolaborasi yang membutuhkan interaksi langsung juga dapat melemah. Pada akhirnya, pengalaman sosial tidak seimbang antara dunia nyata dan dunia digital.
Orang tua dan guru perlu mengarahkan penggunaan ChatGPT agar tetap memiliki fungsi edukatif tanpa mengganggu perkembangan sosial anak. Misalnya, chatbot dapat digunakan untuk eksplorasi pengetahuan tetapi interaksi sosial tetap diprioritaskan melalui diskusi kelompok, permainan peran, atau debat sederhana. Aktivitas ini melatih perspective-taking, yaitu kemampuan memahami sudut pandang orang lain. Proses tersebut tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Dengan demikian, keseimbangan antara penggunaan AI dan interaksi manusia menjadi kunci penting.
ChatGPT tetap dapat menjadi alat pendukung pembelajaran, asalkan penggunaannya disertai pengawasan yang bijak. Guru dapat menata batasan pemakaian agar fungsi sosial pembelajaran di sekolah tetap kuat. Anak perlu dibiasakan menghadapi situasi nyata yang mengharuskan mereka berkomunikasi, bernegosiasi, dan berkolaborasi. Dengan pendekatan holistik ini, kecerdasan interpersonal tetap tumbuh sehat meski hidup berdampingan dengan teknologi modern. Tujuannya adalah menciptakan anak yang cakap secara sosial sekaligus melek digital.
###
Penulis: Arumita Wulan Sari