ChatGPT Mulai Masuk Kelas SD: Guru Siap atau Tergantikan?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — ChatGPT, model bahasa besar yang dikembangkan oleh OpenAI, kini menjadi perbincangan hangat di kalangan pendidik, bahkan di tingkat sekolah dasar (SD). Kekuatan AI ini dalam menghasilkan teks, menjawab pertanyaan, dan menyusun materi pelajaran memunculkan pertanyaan kritis: bagaimana peran guru akan berubah? Awalnya, AI semacam ini dianggap relevan hanya untuk pendidikan tinggi atau menengah. Namun, seiring dengan semakin canggih dan mudahnya akses, alat ini mulai menyentuh fondasi pendidikan, yakni sekolah dasar. Integrasi ChatGPT di SD bukan lagi wacana, melainkan tantangan yang harus dihadapi.
Salah satu kekhawatiran terbesar adalah mengenai pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir kritis dan orisinalitas siswa. Di SD, penekanan utama adalah pada pengembangan dasar-dasar literasi, numerasi, dan pembentukan karakter. Jika siswa terlalu mengandalkan AI untuk menyelesaikan tugas menulis atau pekerjaan rumah, dikhawatirkan mereka akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara mandiri. Guru perlu memastikan bahwa penggunaan alat ini bersifat suplemen, bukan substitusi dari proses belajar inti. Pembelajaran dasar harus tetap berfokus pada penalaran dan kreativitas manusia.
Namun, potensi positif ChatGPT di SD juga tidak bisa diabaikan. Bagi guru, alat ini bisa menjadi asisten pengajar yang sangat efisien. ChatGPT dapat membantu menyusun rencana pelajaran yang disesuaikan (diferensiasi), membuat soal latihan bervariasi, atau bahkan menghasilkan contoh cerita dan puisi yang relevan dengan tema pelajaran. Misalnya, seorang guru dapat meminta ChatGPT membuatkan lima soal cerita matematika dengan tokoh-tokoh lokal untuk meningkatkan keterlibatan siswa. Ini memungkinkan guru untuk mengalokasikan waktu yang sebelumnya tersita untuk administrasi menjadi lebih fokus pada interaksi dan bimbingan langsung dengan siswa.
Aspek lain yang menarik adalah personalisasi pembelajaran. Setiap siswa SD memiliki kecepatan belajar dan gaya belajar yang unik. Dengan bantuan ChatGPT, guru dapat menciptakan materi yang secara spesifik menargetkan kelemahan atau memperkuat kelebihan individu siswa. ChatGPT dapat berinteraksi satu-satu dengan siswa, memberikan penjelasan tambahan tentang suatu konsep dengan bahasa yang lebih sederhana dan contoh yang berbeda, sesuai kebutuhan siswa tersebut. Tentu saja, interaksi ini harus selalu di bawah pengawasan ketat guru dan orang tua untuk menjamin keamanan dan akurasi informasi.
Kesimpulannya, adopsi ChatGPT di sekolah dasar membutuhkan strategi yang hati-hati dan terencana. Ini bukan tentang menolak teknologi, melainkan tentang cara mengintegrasikannya agar selaras dengan tujuan pendidikan dasar: membangun fondasi pengetahuan dan keterampilan yang kuat. Sekolah, guru, dan pemerintah perlu berkolaborasi untuk menyusun pedoman etika dan kurikulum yang jelas mengenai penggunaan AI. Pendidikan di era digital menuntut guru untuk berevolusi dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator yang mengarahkan siswa agar menjadi warga digital yang cerdas dan bertanggung jawab.
Penulis : Reynaldo Hari Prastiyo