ChatGPT sebagai Inovasi Pendidikan dalam Pembelajaran Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id,Surabaya — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Salah satu bentuk AI yang mulai dikenal luas adalah ChatGPT, sebuah teknologi berbasis bahasa yang mampu memberikan respons teks secara cepat dan kontekstual. Kehadiran ChatGPT dalam dunia pendidikan membuka peluang baru bagi guru dan tenaga pendidik untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih efektif, adaptif, dan inovatif. Inovasi ini sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4, yaitu memastikan tersedianya pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan merata bagi semua peserta didik.
Dalam konteks pendidikan sekolah dasar, ChatGPT dikenalkan sebagai alat bantu pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti peran guru. Guru dapat memanfaatkan ChatGPT untuk memperoleh inspirasi materi ajar, contoh soal, ide kegiatan pembelajaran, maupun pengembangan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa SD. Pemanfaatan teknologi ini membantu guru bekerja lebih efisien dan kreatif, sehingga proses pembelajaran dapat dirancang dengan lebih matang dan bermakna. Hal ini berkontribusi langsung terhadap peningkatan kualitas pembelajaran yang menjadi fokus utama SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Meskipun demikian, penggunaan ChatGPT dalam pendidikan perlu dilakukan secara terbatas dan terkontrol. Guru memiliki peran penting dalam mengarahkan pemanfaatan teknologi ini agar tidak disalahgunakan oleh siswa. ChatGPT sebaiknya digunakan sebagai sumber referensi awal atau alat bantu eksplorasi ide, bukan sebagai sarana menyalin jawaban secara instan. Pembatasan ini bertujuan untuk melatih kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemandirian belajar siswa, yang merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran abad ke-21.
Aspek etika akademik juga menjadi perhatian utama dalam pemanfaatan ChatGPT di lingkungan pendidikan. Guru perlu menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas kepada siswa sejak dini. Dengan pendampingan yang tepat, siswa dapat memahami bahwa teknologi harus digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. Penanaman etika akademik ini tidak hanya mendukung pembentukan karakter siswa, tetapi juga memperkuat tujuan pendidikan berkelanjutan sebagaimana ditekankan dalam SDGs poin 4.
Dengan demikian, ChatGPT dapat dipandang sebagai inovasi pendidikan yang memiliki potensi besar dalam mendukung proses pembelajaran di sekolah dasar. Ketika digunakan secara bijak, terarah, dan beretika, teknologi ini mampu membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran serta mempersiapkan siswa menghadapi perkembangan teknologi di masa depan. Inovasi ini menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan dapat menjadi bagian dari upaya strategis untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, relevan, dan berkelanjutan sesuai dengan agenda Sustainable Development Goals, khususnya di bidang pendidikan.
###
Penulis: Nadya Ulya Octavianisa