ChatGPT sebagai Mitra Belajar Literasi Digital bagi Siswa Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —ChatGPT sering kali dianggap sebagai alat yang hanya cocok untuk pelajar tingkat lanjut, padahal siswa SD pun dapat memanfaatkannya secara aman dan terbimbing. Sebagai learning partner, ChatGPT dapat membantu siswa menjawab rasa ingin tahu sederhana tentang dunia di sekitar mereka. Ketika anak bertanya, “Mengapa matahari terbit?” atau “Apa itu ekosistem?”, ChatGPT dapat memberikan jawaban awal yang dapat mereka pahami. Di sinilah peran guru dan orang tua dibutuhkan untuk memberi konteks dan memastikan anak belajar secara tepat.
Sebagai mitra belajar digital, ChatGPT mendorong siswa mengembangkan keterampilan bertanya. Keterampilan ini merupakan inti dari literasi abad ke-21. Anak belajar bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui proses dialog, bukan hanya menerima informasi secara pasif. Guru dapat mengarahkan siswa untuk membuat pertanyaan yang lebih jelas atau mendalam sehingga mereka mampu mempraktikkan inquiry-based learning dalam format digital.
Namun, penggunaan ChatGPT juga menuntut kemampuan literasi digital yang memadai. Siswa perlu belajar menilai apakah informasi yang diberikan sudah sesuai, bermanfaat, dan relevan. Konsep seperti critical consumption atau “menyaring informasi” perlu dikenalkan sejak dini. Dengan demikian, anak tidak hanya pintar mencari informasi tetapi juga bijak menggunakannya. Pendampingan orang dewasa menjadi faktor utama menjaga proses ini tetap aman.
ChatGPT juga dapat digunakan dalam aktivitas kreatif seperti menulis cerita, membuat dialog, atau menghasilkan ide untuk proyek pembelajaran. Guru dapat menjadikan ChatGPT sebagai alat pemantik, sementara siswa tetap menjadi pencipta karya. Pendekatan ini membantu menumbuhkan creative confidence pada anak, sesuatu yang penting dalam perkembangan literasi mereka. Teknologi hadir bukan sebagai pengganti kreativitas, tapi sebagai penguatnya.
Pada akhirnya, ChatGPT dapat menjadi jembatan antara rasa ingin tahu anak dan dunia pengetahuan yang luas. Dengan pendampingan yang tepat, siswa dapat belajar berselancar di ruang digital dengan cara yang aman, reflektif, dan bertanggung jawab. Pendidikan dasar tidak harus menjauh dari teknologi—yang penting adalah bagaimana teknologi diolah menjadi pengalaman belajar yang bermakna.
Penulis: Arumita Wulan Sari
Sumber: Google