Coding Dasar Membentuk Anak SD Menjadi Pembelajar Aktif di Era Digital
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Era digital menuntut individu yang tidak
hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahaminya. Coding dasar
memberikan anak kesempatan untuk berperan aktif. Anak tidak hanya menerima
informasi, tetapi mengolahnya. Proses ini mengubah posisi anak dalam
pembelajaran. Mereka menjadi subjek aktif. Antusiasme tumbuh karena anak merasa
berdaya. Belajar menjadi pengalaman personal.
Coding
mengajarkan anak untuk berpikir sebelum bertindak. Setiap perintah harus
dipertimbangkan. Anak belajar merencanakan langkah. Proses ini melatih
pengambilan keputusan. Anak memahami konsekuensi dari setiap pilihan. Kesalahan
menjadi sarana belajar. Antusiasme tetap terjaga melalui tantangan intelektual.
Robotika mini
memperkuat peran aktif anak dalam pembelajaran. Anak melihat hasil nyata dari
keputusan yang dibuat. Pengalaman ini meningkatkan rasa tanggung jawab. Anak
belajar bahwa teknologi membutuhkan perhatian. Proses ini melatih konsistensi.
Belajar menjadi aktivitas yang bermakna.
Fenomena
tantangan teknologi di media sosial sering mengundang perhatian anak. Coding
dasar memberi konteks edukatif terhadap fenomena tersebut. Anak tidak hanya
mengikuti tren, tetapi memahami prinsip di baliknya. Pengalaman ini membangun
literasi digital. Anak menjadi lebih kritis. Teknologi dipahami secara
mendalam.
Dengan coding
dasar dan robotika mini, anak SD tumbuh sebagai pembelajar aktif. Antusiasme
mereka bersumber dari rasa mampu dan berdaya. Pendidikan teknologi tidak hanya
membekali keterampilan. Ia juga membentuk sikap belajar sepanjang hayat. Anak
siap menghadapi dunia digital secara sadar.
Penulis: Resinta Aini Z.