Perubahan iklim global yang semakin nyata membawa dampak signifikan terhadap kondisi cuaca di berbagai daerah. Sekolah dasar sebagai lingkungan tempat anak-anak belajar dan beraktivitas perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap fenomena cuaca ekstrem, seperti hujan deras, panas terik, atau angin kencang. Situasi tersebut tidak hanya memengaruhi kenyamanan belajar, tetapi juga dapat menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan bagi siswa. Oleh karena itu, kesiapsiagaan sekolah menjadi hal yang sangat penting untuk diterapkan secara sistematis.
Sekolah perlu membangun budaya tanggap iklim dengan memberikan edukasi sejak dini kepada siswa mengenai pentingnya memahami perubahan cuaca dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan pembelajaran tematik atau proyek berbasis lingkungan, guru dapat mengajak siswa mengenali tanda-tanda cuaca ekstrem dan cara menghadapinya. Misalnya, dengan menanamkan kebiasaan membawa payung atau topi, mengenakan pakaian yang sesuai kondisi cuaca, serta mengetahui area aman di sekolah saat terjadi hujan lebat atau angin kencang.
Selain pembelajaran di kelas, pihak sekolah juga perlu menyiapkan prosedur tanggap darurat yang jelas dan mudah dipahami oleh seluruh warga sekolah. Papan informasi, jalur evakuasi, serta pengumuman dini mengenai kondisi cuaca ekstrem dapat membantu mengurangi risiko saat terjadi kejadian mendadak. Kerja sama antara guru, tenaga kependidikan, dan petugas keamanan sekolah menjadi kunci dalam memastikan keselamatan anak-anak selama berada di lingkungan sekolah.
Kesiapan infrastruktur juga tak kalah penting. Sekolah perlu memastikan bahwa atap, saluran air, dan ventilasi ruangan dalam kondisi baik untuk menghadapi perubahan cuaca ekstrem. Ruang kelas yang memiliki sirkulasi udara baik akan membantu menjaga kenyamanan belajar, terutama saat suhu meningkat. Sementara itu, keberadaan pohon peneduh di area bermain dapat memberikan perlindungan alami saat cuaca panas. Dengan demikian, lingkungan sekolah menjadi lebih adaptif terhadap kondisi cuaca yang berubah-ubah.
Selain dari sisi fisik, kesiapsiagaan mental dan sosial juga perlu diperhatikan. Guru berperan dalam menanamkan sikap tenang dan tanggap pada siswa saat menghadapi perubahan mendadak akibat cuaca. Melatih anak untuk tidak panik, tetap mendengarkan instruksi, dan saling membantu teman dapat membentuk karakter tangguh dan empati sosial yang kuat. Hal ini sejalan dengan pendidikan karakter yang menjadi bagian penting dalam kurikulum sekolah dasar.
Dengan membangun budaya tanggap iklim di lingkungan sekolah, anak-anak tidak hanya dilatih untuk menjaga diri, tetapi juga diajarkan untuk peduli terhadap lingkungan dan memahami realitas perubahan iklim global. Sekolah yang siap menghadapi cuaca ekstrem berarti juga turut berperan dalam mencetak generasi muda yang sadar lingkungan, bertanggung jawab, dan adaptif terhadap tantangan masa depan.