Cuaca Ekstrem dan Tantangan Bagi Kecerdasan Naturalis Siswa Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dalam kerangka kecerdasan majemuk, kecerdasan naturalis menempati posisi penting terutama di jenjang sekolah dasar. Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan mengamati, mengelompokkan, dan memahami fenomena alam. Aktivitas eksplorasi langsung seperti mengamati tumbuhan, cuaca, atau lingkungan sekitar adalah bagian utama pengembangannya. Namun, perubahan iklim dan cuaca ekstrem kini menjadi tantangan nyata dalam pembelajaran berbasis alam.
Di banyak sekolah, kegiatan luar ruangan mulai dibatasi karena suhu terlalu panas atau hujan yang datang tiba-tiba. Kondisi ini mengurangi kesempatan siswa untuk melakukan experiential learning di lingkungan sekitar. Padahal, pengalaman langsung merupakan inti dari perkembangan kecerdasan naturalis. Tanpa interaksi dengan alam, kemampuan observasi anak menjadi semakin lemah. Situasi ini menimbulkan kesenjangan antara kurikulum dan praktik pembelajaran.
Guru sering mengakali kondisi cuaca dengan membawa unsur alam ke dalam kelas. Namun, pendekatan ini tidak sepenuhnya menggantikan pengalaman multisensori yang didapatkan dari belajar di luar ruangan. Interaksi dengan alam membutuhkan suara, tekstur, bau, dan dinamika yang tidak bisa sepenuhnya dipresentasikan melalui gambar atau video. Anak yang kurang terekspos pada pengalaman langsung cenderung menunjukkan nature detachment, yaitu keterputusan emosional dan kognitif dari lingkungan. Hal ini dapat berdampak pada rendahnya apresiasi terhadap isu-isu ekologis.
Selain itu, cuaca ekstrem juga mengganggu alur pembelajaran tematik yang dirancang untuk memanfaatkan ruang terbuka. Guru sulit merencanakan eksplorasi jangka panjang karena kondisi sangat tidak menentu. Ketidakpastian ini menimbulkan hambatan dalam menumbuhkan ecological literacy, yaitu kemampuan memahami fenomena ekologis secara berkelanjutan. Anak pun kehilangan kesempatan untuk mengembangkan empati terhadap alam. Padahal, empati ekologis merupakan fondasi pendidikan lingkungan modern.
Untuk mengatasi hambatan ini, sekolah dapat mengintegrasikan teknologi seperti simulasi cuaca atau virtual nature walk sebagai alternatif. Meskipun tidak menggantikan pengalaman nyata, teknologi dapat berfungsi sebagai jembatan agar anak tetap memiliki representasi mental tentang alam. Guru juga dapat mengarahkan siswa membuat jurnal cuaca harian untuk melatih observasi sistematis. Dengan strategi adaptif tersebut, kecerdasan naturalis tetap dapat berkembang meski menghadapi tantangan cuaca ekstrem.
###
Penulis: Arumita Wulan Sari