Cuaca Ekstrem Mengancam? Sekolah Dasar Siapkan Manajemen Risiko Berbasis SDGs
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Cuaca ekstrem kini mulai menjadi perhatian serius di sekolah dasar sebagai bagian dari kesiapsiagaan lingkungan. Guru dan siswa diajak mengenali tanda-tanda bahaya dari perubahan cuaca seperti hujan lebat mendadak, angin kencang, dan panas ekstrem. Pembelajaran ini disatukan dengan program manajemen risiko sekolah berbasis SDGs 13. Pendekatan ini membantu siswa memahami pentingnya sistem kewaspadaan dini yang dimulai dari sekolah. Guru memberikan berbagai simulasi agar siswa mampu merespons keadaan darurat secara tepat. Program ini memperkuat budaya keselamatan sejak dini.
Sekolah mengembangkan peta rawan cuaca yang disusun bersama siswa. Peta ini menunjukkan titik-titik yang berpotensi bahaya seperti area pohon besar, saluran air, dan lapangan terbuka. Anak-anak diajak menganalisis kemungkinan risiko berdasarkan kondisi cuaca tertentu. Diskusi ini membuat mereka memahami hubungan antara cuaca dan keselamatan lingkungan sekolah. Pendekatan kolaboratif ini menumbuhkan keterlibatan siswa secara aktif. Mereka merasa memiliki peran penting dalam menjaga keamanan sekolah.
Guru juga memasukkan studi kasus bencana lokal sebagai bahan pembelajaran. Siswa belajar bagaimana banjir, angin puting beliung, atau gelombang panas mempengaruhi kehidupan masyarakat. Pembelajaran berbasis kasus ini membuat mereka memahami bahwa perubahan cuaca memiliki dampak sosial yang kompleks. Guru mengajak siswa berdiskusi tentang strategi mitigasi sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari. Pendekatan ini memperkuat kemampuan berpikir kritis dan empati sosial. Siswa pun mulai sadar bahwa cuaca ekstrem bukan sekadar fenomena, tetapi ancaman nyata.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, sekolah melakukan latihan evakuasi berkala. Guru menjelaskan prosedur keselamatan dengan cara yang sederhana dan tidak menakutkan. Siswa belajar mengenali jalur evakuasi, titik berkumpul, dan cara melapor saat terjadi kejadian cuaca ekstrem. Latihan ini menciptakan rasa tenang karena siswa tahu apa yang harus dilakukan. Guru memastikan kegiatan berjalan inklusif sehingga semua siswa dapat berpartisipasi. Proses ini menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap keselamatan bersama.
Manajemen risiko berbasis cuaca ini membantu sekolah dasar menyatu dengan komitmen SDGs. Sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga pusat edukasi mitigasi iklim. Pendekatan ini membuat siswa lebih siap menghadapi perubahan lingkungan di masa depan. Guru berharap kegiatan ini membangun generasi yang lebih tangguh, sadar risiko, dan peduli keselamatan. Program ini menunjukkan bahwa pengelolaan risiko dapat dimulai dengan langkah kecil dari sekolah. Dan yang lebih penting, siswa tumbuh menjadi agen perubahan untuk dunia yang lebih aman.
###
Penulis: Putri Arina Hidayati
Dokumentasi: Google_Pos Flores