Dari Bekal ke Kompos: Mengelola Sisa Organik Secara Mandiri
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Program
"Compost Day" yang dilaksanakan setiap hari Jumat kini
bertransformasi menjadi agenda rutin yang paling dinanti oleh siswa SD di
wilayah Surabaya sebagai upaya konkret penanganan sampah dari hulu. Program ini
mewajibkan setiap siswa yang memiliki sisa potongan buah atau sayur dari bekal
mereka untuk mengumpulkannya di unit komposter sekolah yang dikelola secara
kolektif. Inisiatif ini merupakan strategi cerdas untuk menutup siklus konsumsi
di lingkungan pendidikan, memastikan bahwa apa yang berasal dari alam kembali
ke alam, sekaligus secara signifikan mengurangi beban Tempat Pemrosesan Akhir
(TPA) yang kian kritis.
Proses
pengomposan ini menjadi laboratorium biologi yang hidup dan sangat dinamis bagi
para siswa di luar ruang kelas konvensional. Mereka tidak hanya melihat, tetapi
terlibat langsung dalam mengamati bagaimana mikroorganisme bekerja melakukan
dekomposisi, mengubah limbah yang semula dianggap menjijikkan menjadi pupuk
organik yang kaya nutrisi. Pengalaman empiris ini memberikan pelajaran moral
yang sangat mendalam tentang prinsip "tidak ada yang sia-sia di alam semesta".
Secara data, sekolah-sekolah yang menerapkan sistem ini berhasil memangkas
volume sampah organik harian hingga 60%, sebuah angka yang membuktikan
efektivitas pengelolaan limbah berbasis komunitas.
Keberhasilan
habituasi ini terletak pada kesederhanaan prosesnya dan keterlibatan emosional
siswa yang dibangun melalui kepemilikan proyek. Ketika para siswa menggunakan
kompos hasil buatan mereka sendiri untuk memupuk tanaman hias atau sayuran di
kebun sekolah, sebuah pemahaman utuh tentang ekonomi sirkular terbentuk secara
sempurna dalam kognisi mereka. Sekolah ramah lingkungan dalam konteks ini tidak
lagi berhenti pada tataran jargon atau poster dinding, tetapi meresap dalam
aktivitas harian yang sederhana namun berdampak sistemik. Mengelola sisa bekal
menjadi kompos adalah langkah kecil yang secara fundamental membentuk identitas
siswa sebagai pelindung bumi sejati.
Dari
perspektif manajemen lingkungan, program ini juga mengajarkan siswa tentang
pentingnya pemisahan sampah sejak dari tangan pertama. Tanpa pemilahan yang
disiplin, proses pengomposan akan gagal karena terkontaminasi oleh limbah
plastik atau logam. Oleh karena itu, siswa secara otomatis melatih ketelitian
dan kejujuran dalam membuang sisa makanan mereka ke wadah yang tepat.
Kedisiplinan ini merupakan bentuk latihan integritas yang sangat relevan dengan
pembentukan karakter anak. Mereka belajar bahwa keberhasilan sebuah sistem
besar sangat bergantung pada kejujuran dan kontribusi kecil dari setiap
individu di dalamnya.
Pihak
sekolah juga seringkali mengintegrasikan hasil kompos ini dengan kegiatan
kewirausahaan hijau (eco-preneurship). Kompos yang sudah matang dikemas
dengan apik dan dapat dibeli oleh orang tua siswa saat acara pertemuan wali
murid, di mana hasil penjualannya digunakan untuk membeli bibit pohon baru.
Siklus ini menunjukkan kepada siswa bahwa kepedulian lingkungan dapat berjalan
beriringan dengan nilai ekonomi jika dikelola dengan inovatif. Pelajaran
tentang nilai tambah dari limbah ini menjadi modal berharga bagi mereka untuk
menjadi pribadi yang kreatif dalam mencari solusi atas masalah lingkungan di
masa depan.
Namun,
tantangan teknis seperti pengendalian bau dan kelembapan komposter memerlukan
pendampingan yang intensif dari guru pendamping atau ahli lingkungan lokal.
Sekolah harus memastikan bahwa area komposter tetap higienis agar tidak menjadi
sarang penyakit, sehingga edukasi mengenai sanitasi juga turut tersampaikan.
Pelatihan berkala bagi siswa mengenai teknik pengomposan yang benar menjadi
kunci agar semangat mereka tidak luntur akibat kendala teknis. Kolaborasi
dengan komunitas penggiat lingkungan di Malang turut memperkuat aspek
pengetahuan teknis yang dibutuhkan oleh warga sekolah.
Sebagai
penutup, program pengomposan mandiri di sekolah dasar adalah manifestasi dari
pendidikan keberlanjutan yang paling murni. Kita tidak sedang hanya membuang
sampah, melainkan sedang menumbuhkan kesadaran bahwa manusia adalah bagian
integral dari ekosistem yang harus dijaga keseimbangannya. Jika sejak dini
anak-anak sudah terbiasa bertanggung jawab atas limbah yang mereka hasilkan,
maka kita boleh optimis akan masa depan bumi yang lebih hijau. Transformasi
dari sisa makanan menjadi pupuk adalah metafora indah dari proses pendidikan:
mengubah sesuatu yang mentah menjadi sesuatu yang memberikan kehidupan bagi
sekitarnya.
###
Penulis:
Nur Santika Rokhmah