Dari Jemuran ke Ilmu Cuaca: Mengapa Hari Ini Baju Cepat atau Lambat Kering
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Kegiatan menjemur pakaian adalah aktivitas sederhana yang terjadi hampir setiap hari di rumah. Namun, di balik kegiatan tersebut terdapat fenomena cuaca yang menarik untuk dipelajari, terutama bagi siswa sekolah dasar. Pada hari yang panas dan cerah, pakaian biasanya mengering lebih cepat karena sinar matahari mempercepat proses penguapan. Sebaliknya, pada hari mendung atau saat udara lembap, pakaian membutuhkan waktu lebih lama untuk kering. Melalui situasi ini, anak dapat belajar bahwa cuaca memiliki pengaruh langsung pada kehidupan sehari-hari.
Perubahan suhu merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi kecepatan pengeringan pakaian. Saat udara hangat, molekul air dalam pakaian bergerak lebih cepat dan menguap dengan lebih mudah. Namun ketika cuaca dingin, proses penguapan berjalan lebih lambat, sehingga pakaian tetap lembap lebih lama. Guru atau orang tua dapat mengajak anak membandingkan waktu pengeringan di hari yang berbeda. Kegiatan ini melatih mereka untuk memahami hubungan sebab-akibat dalam fenomena cuaca.
Selain suhu, angin juga berperan penting dalam proses pengeringan. Angin membantu membawa uap air menjauh dari pakaian, sehingga proses pengeringan berlangsung lebih cepat. Pada hari yang tidak berangin, meskipun matahari bersinar, pakaian bisa tetap membutuhkan waktu lama untuk kering. Dengan mengamati kondisi ini, siswa dapat memahami bahwa beberapa elemen cuaca bekerja bersama-sama, bukan hanya satu faktor saja. Pengamatan sederhana ini membantu anak memahami bahwa cuaca adalah sistem yang saling terhubung.
Kelembaban udara juga memengaruhi waktu pengeringan pakaian. Ketika udara sudah penuh dengan uap air, proses penguapan berjalan lebih lambat karena udara tidak dapat menampung lebih banyak uap. Kondisi ini dapat terlihat terutama pada musim penghujan ketika udara terasa sangat lembap. Dengan membandingkan cuaca panas, berangin, dan lembap, anak-anak dapat mulai mengenal konsep iklim mikro di lingkungan mereka. Pengetahuan ini membantu mereka mengamati dan memahami cuaca dengan lebih cermat.
Kegiatan sederhana seperti menjemur pakaian dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal ilmu cuaca secara alami. Melalui pengalaman langsung, anak dapat memahami bahwa cuaca bukan hanya teori, tetapi sesuatu yang memengaruhi aktivitas sehari-hari. Pembelajaran seperti ini membantu siswa menghubungkan sains dengan dunia nyata yang mereka alami. Dengan mengajukan pertanyaan dan melakukan pengamatan, rasa ingin tahu mereka berkembang. Dengan demikian, kegiatan rumah sederhana dapat berubah menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Penulis: Della Octavia Citra Lestari Gambar: Google