Dari Rasa Malu Bertanya ke Berani Diskusi: ChatGPT sebagai Ruang Latihan Komunikasi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Tidak semua siswa berani bertanya kepada guru atau teman ketika mereka tidak memahami sesuatu. Banyak siswa merasa takut salah, malu berbicara, atau khawatir diejek teman. Dengan adanya ChatGPT, siswa memiliki ruang aman untuk belajar bertanya tanpa rasa takut. Mereka bisa mengulang, memperbaiki, dan mencoba lagi hingga merasa percaya diri. Ruang belajar yang aman ini membantu mereka mengatasi hambatan emosional dalam komunikasi.
ChatGPT juga menjadi media latihan penyusunan pertanyaan dengan bahasa yang sopan dan jelas. Siswa belajar mengungkapkan maksud dengan kalimat yang terstruktur melalui contoh percakapan. Ketika mereka mengajukan pertanyaan singkat, ChatGPT dapat mengajak mereka mengembangkan pertanyaan menjadi lebih rinci. Dengan demikian, siswa berlatih keterampilan komunikasi secara bertahap. Latihan ini membantu mereka membangun kebiasaan berbicara efektif.
Guru dapat mengintegrasikan aktivitas ini ke dalam pembelajaran kelas. Misalnya, siswa diminta menulis minimal tiga pertanyaan kepada ChatGPT tentang topik tertentu. Setelah itu, mereka diminta membagikan pertanyaan kepada teman sebaya dan mendiskusikan jawabannya. Dengan cara ini, AI menjadi jembatan menuju komunikasi antarmanusia. Proses ini membantu siswa memahami bahwa teknologi hanyalah alat, sementara komunikasi antarindividu tetap penting.
Selain kemampuan verbal, proses ini melatih pengendalian emosi. Ketika siswa mendapatkan jawaban yang belum sesuai harapan, mereka belajar memperbaiki pertanyaan, bukan menyerah. Hal ini melatih kesabaran, ketekunan, dan kemampuan evaluasi diri. Sikap tersebut sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi yang sehat berawal dari kemampuan menyusun pertanyaan dan mendengar jawaban dengan terbuka.
ChatGPT bukan hanya alat belajar, tetapi ruang latihan komunikasi yang mendukung perkembangan sosial dan bahasa siswa. Dengan latihan berulang, rasa malu dapat berubah menjadi keberanian yang bertumbuh. Siswa belajar bahwa bertanya bukan tanda kelemahan, melainkan tanda ingin belajar. Ketika keterampilan komunikasi berkembang, kesempatan belajar akan semakin luas. Maka, teknologi dapat menjadi sahabat dalam membangun keberanian berbicara. Penulis: Della Octavia Citra Lestari Sumber Gambar: AI