Dari Sekolah Rakyat ke Sekolah Dasar - Evolusi Sistem Pendidikan Dasar Indonesia
Penulis:
Neni Mariana
Sumber:
images.google.com
Perjalanan
sistem pendidikan dasar di Indonesia dari Volkschool masa Belanda, Kokumin
Gakko masa Jepang, Sekolah Rakyat pasca kemerdekaan, hingga Sekolah Dasar
modern adalah cerminan dari perjalanan bangsa Indonesia itu sendiri dalam
memperjuangkan kemerdekaan, membangun identitas nasional, dan mengembangkan
sumber daya manusia. Setiap periode membawa perubahan signifikan dalam
filosofi, kurikulum, dan pendekatan pendidikan yang mencerminkan nilai-nilai
dan prioritas politik pada zamannya. Volkschool yang sangat diskriminatif dan
dirancang hanya untuk menghasilkan tenaga kerja kasar bagi kepentingan
kolonial, bertransformasi menjadi Kokumin Gakko yang meskipun penuh
indoktrinasi Jepang namun mulai menghapus sekat-sekat sosial dalam pendidikan,
kemudian menjadi Sekolah Rakyat yang egaliter dan nasionalis, dan akhirnya
menjadi Sekolah Dasar modern yang lebih terstandar dan mengikuti perkembangan
pedagogik global. Transformasi ini bukan terjadi secara linear dan mulus,
melainkan penuh dengan perdebatan, eksperimen, kegagalan, dan pembelajaran yang
membentuk wajah pendidikan dasar Indonesia seperti sekarang.
Era
Orde Baru membawa perubahan besar dalam pendidikan dasar dengan program Inpres
SD yang membangun puluhan ribu sekolah di seluruh Indonesia dan program Wajib
Belajar yang meningkatkan partisipasi sekolah secara dramatis. Namun ekspansi
kuantitatif ini tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas yang memadai,
menciptakan kesenjangan yang lebar antara sekolah di kota dengan di desa, di
Jawa dengan luar Jawa. Era Reformasi membawa demokratisasi dan desentralisasi
pendidikan yang memberikan otonomi lebih besar kepada daerah dan sekolah, namun
juga menciptakan disparitas baru karena daerah kaya dapat menyediakan
pendidikan berkualitas sementara daerah miskin tertinggal. Program-program
seperti BOS, Indonesia Pintar, dan berbagai bantuan sosial lainnya terus dikembangkan
untuk mengatasi masalah akses dan pemerataan, namun masalah kualitas
pembelajaran dan relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja tetap
menjadi tantangan besar hingga kini.
Di
era digital saat ini, sistem pendidikan dasar Indonesia menghadapi tantangan
baru yang belum pernah ada sebelumnya. Pandemi COVID-19 memaksa transformasi
digital yang sangat cepat dalam pendidikan, dengan pembelajaran jarak jauh yang
mengekspos kesenjangan digital yang sangat lebar antara siswa yang memiliki
akses internet dan perangkat dengan yang tidak. Tuntutan abad 21 akan kemampuan
berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi (4C) memerlukan
transformasi pedagogik dari teacher-centered menjadi student-centered, dari
hafalan menjadi pemahaman dan aplikasi, dari kompetisi menjadi kolaborasi.
Kurikulum Merdeka yang diluncurkan tahun 2022 adalah upaya untuk menjawab
tantangan ini dengan memberikan fleksibilitas lebih besar kepada guru dan sekolah,
namun implementasinya masih menghadapi berbagai kendala terutama di
daerah-daerah dengan sumber daya terbatas. Ke depan, pendidikan dasar Indonesia
harus terus beradaptasi dengan perubahan teknologi, ekonomi, dan sosial yang
sangat cepat, sambil tetap menjaga nilai-nilai fundamental tentang pendidikan
sebagai hak dasar dan instrument pembebasan yang sudah diperjuangkan sejak era
Sekolah Rakyat.