Dekat dengan Alam, Siswa SD Pelajari Cuaca Secara Langsung
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sekolah dasar di kawasan pedesaan mulai menerapkan pendekatan pembelajaran IPA yang lebih dekat dengan alam. Guru mengajak siswa menuju lapangan terbuka untuk mengamati berbagai fenomena cuaca secara langsung. Pagi itu, udara terasa sejuk dengan sinar matahari yang masih lembut. Suasana tersebut menciptakan lingkungan belajar yang sangat kondusif bagi siswa untuk memperhatikan detail-detail kecil dari perubahan cuaca yang terjadi di sekeliling mereka.
Guru mengawali kegiatan dengan meminta siswa memperhatikan bentuk awan dan warna langit. La menunjukkan bahwa awan tidak hanya berwarna putih, tetapi memiliki beragam bentuk dan struktur yang dapat menunjukkan kondisi cuaca tertentu. Siswa terlihat sangat tertarik ketika guru menjelaskan cara membedakan awan kumulus, stratus, hingga cirrus. Banyak yang menunjuk ke arah langit sambil membandingkan pengamatan mereka dengan gambar yang dibawa guru.
Selanjutnya, siswa diminta menggunakan alat sederhana seperti termometer dan alat penunjuk arah angin. Mereka belajar cara mencatat suhu dengan benar dan membaca arah angin berdasarkan pergerakan bendera kecil yang dibawa guru. Kegiatan ini membuat mereka merasa seperti ilmuwan kecil. Beberapa siswa bahkan mencoba memprediksi apakah siang hari akan lebih panas atau berawan berdasarkan data yang mereka kumpulkan.
Setelah selesai melakukan pengamatan, guru mengajak siswa duduk bersama untuk membahas temuan mereka. Diskusi ini menjadi wadah bagi siswa untuk berbicara, menyampaikan opini, dan mengaitkan apa yang mereka lihat dengan teori yang sudah pernah dipelajari. Guru memandu mereka dengan pertanyaan pemantik sehingga anak-anak dapat menarik kesimpulan logis mengenai hubungan antara suhu, awan, dan arah angin.
Kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus dilakukan secara rutin karena terbukti meningkatkan minat dan keaktifan siswa. Dengan belajar langsung dari alam, siswa tidak hanya memahami konsep IPA, tetapi juga menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian terhadap lingkungan. Guru percaya bahwa pembelajaran berbasis pengalaman nyata akan membekas lebih lama dan membantu membentuk karakter siswa yang lebih peka terhadap fenomena alam.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah