Desain Poster Anti Bullying Menggunakan Canva di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Guru mengenalkan Canva untuk kampanye anti bullying. Siswa belajar menggunakan font tegas. Pesan dibuat singkat dan kuat. Poster berisi ajakan saling menghargai. Guru membantu memilih warna emosional. Anak sadar pentingnya anti bullying. Canva menjadi media edukasi moral.
Siswa membuat poster berisi himbauan. Mereka memilih ikon wajah sedih atau bahagia. Visual menambah kekuatan pesan. Karya dipresentasikan ke kelas. Guru memberi umpan balik. Kelas berdiskusi serius. Canva memicu refleksi.
Poster ditempel di koridor sekolah. Anak-anak membaca pesan setiap lewat. Kesadaran meningkat. Guru melihat perubahan sikap. Siswa lebih ramah. Konflik berkurang. Canva mencetak dampak sosial.
Dalam pelajaran PPKn, guru menghubungkan dengan nilai kemanusiaan. Siswa menuliskan contoh perilaku baik. Poster menjadi simbol nilai. Anak bangga berpartisipasi. Orang tua mendukung kampanye. Etika sosial berkembang. Canva mengukuhkan nilai.
Guru membuat tantangan slogan anti bullying. Anak berlomba mencipta kalimat kreatif. Slogan dimasukkan ke poster Canva. Guru menilai originalitas. Kelas bersorak saat karya terpilih. Bullying menjadi topik serius namun kreatif. Canva membangun karakter.
Orang tua menerima pamflet digital hasil Canva. Mereka membahasnya di rumah. Anak merasa pesan diperhatikan. Guru melihat kesinambungan pendidikan moral. Keselarasan lingkungan terbentuk. Rumah dan sekolah satu suara. Canva menguatkan edukasi sosial.
Secara keseluruhan, Canva menjadi media efektif melawan bullying. Guru menyampaikan pesan dengan visual menarik. Siswa berperan aktif sebagai agen kebaikan. Poster memberi pengingat kuat setiap hari. Orang tua ikut menegaskan nilai. Teknologi mendukung perubahan perilaku. Canva menjadi alat membangun empati sosial.
Penulis: Nia Ayu Anggraeni
Sumber: Google