Diferensiasi Pembelajaran dan Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Pembelajaran berdiferensiasi menjadi salah satu konsep utama Kurikulum Merdeka yang menuntut guru memahami kebutuhan, minat, dan profil belajar siswa. Meski konsepnya progresif, implementasinya tidak selalu mudah di tingkat sekolah dasar. Guru harus mengelola keragaman kemampuan siswa dalam satu kelas yang heterogen. Kondisi ini menuntut keterampilan pedagogis yang mendalam dan fleksibel. Tidak semua guru memiliki kesiapan yang sama.
Penerapan diferensiasi memerlukan perencanaan pembelajaran yang lebih kompleks. Guru harus merancang tugas, sumber belajar, dan asesmen yang sesuai dengan kebutuhan tiap kelompok siswa. Banyak guru merasa kewalahan karena keterbatasan waktu dan beban administrasi. Situasi ini menunjukkan perlunya dukungan sekolah untuk memfasilitasi kolaborasi guru. Perencanaan kolektif dapat mengurangi beban individual.
Hambatan lain muncul dari keterbatasan sumber belajar yang dapat menyesuaikan kebutuhan peserta didik. Tidak semua sekolah memiliki materi yang variatif dan responsif terhadap keragaman siswa. Guru sering harus membuat bahan ajar sendiri yang memakan waktu. Hal ini memperlihatkan pentingnya dukungan pemerintah dalam menyediakan sumber belajar berkualitas. Keberhasilan diferensiasi sangat bergantung pada ketersediaan sumber.
Di sisi lain, pembelajaran berdiferensiasi menunjukkan dampak positif dalam meningkatkan keterlibatan siswa. Guru yang sudah menerapkan pendekatan ini melaporkan peningkatan motivasi dan capaian akademik. Siswa merasa dihargai karena kebutuhan belajarnya diperhatikan. Lingkungan kelas menjadi lebih inklusif dan produktif. Bukti ini memperkuat argumen bahwa diferensiasi adalah arah perubahan yang tepat.
Implementasi diferensiasi membutuhkan perubahan paradigma dalam pembelajaran. Guru harus melihat siswa sebagai individu unik dengan kecepatan belajar berbeda. Sekolah perlu membangun budaya kolaboratif agar guru dapat saling belajar. Dukungan kebijakan harus memperkuat praktik ini sebagai standar, bukan pengecualian. Dengan pendekatan komprehensif, Kurikulum Merdeka dapat mencapai tujuan transformasinya secara lebih optimal.
####
Penulis: Aida Meilina